Tikaku, 18

Kejadian luar biasa menimpaku hari ini.
Tika, kupikir kita tidak akan bertemu lagi.

Jum'at, 15 September 2019

Seharian aku hanya terbaring lemas. Badanku tidak merasa sakit, tapi karena suatu alasan aku tidak bisa banyak bergerak. Dari semalam perasaanku tak enak, badanku juga terasa lelah.

Kupaksa badanku bangkit. Memasak bubur sebagai rayuan untuk lambungku yang ngambek tak mau diasupi.
Pelan-pelan kusuapi diriku dengan hati was-was.
Jangan sampai muntah, jangan sampai mubazir...

Setelah makan, kubaringkan lagi badanku yang mulai oleng.
Kutarik selimut merahku menutupi sebagian besar badan.
Mata kupejamkan, tapi tak mau terlelap.
Suara rekan yang waktu lalu kuantar ke bandara membuat mataku mengerjap.

"Kak... sakitka..", kataku parau.

Ia langsung memeriksa suhu tubuhku dengan meletakkan tangannya ke pipi dan dahiku.

"Panas sekali badanta", katanya.

Oleh-oleh khas yang ia bawa kusantap dengan lahap. Lalu berbaring sejenak. Takut oleng.

Cukup lama aku merebah. Badanku mulai pegal, aku berinisiatif untuk cari hiburan dengan Tina dan Akram yang kudengar heboh di lantai satu. Harusnya sekarang jadwal kerjaku, kasihan Tina yang harus menunggu Erna datang sebelum pulang. Tapi entahlah, badan apalagi hatiku sedang tak mau diajak kerjasama.

Aku menuruni tangga tanpa alas. Kukagetkan sedikit (kau tau bagaimana aku mengagetkan, hihi), lalu kami mulai bercanda seperti biasa, meski aku terdengar membosankan karena suhu tubuhku memang sedang tak normal. Mereka tetap berusaha melucukan apasaja.

"Ih, banjirki", kataku mendapati air dari jerigen pembuangan mulai keluar membasahi telapak kakiku.
Akram dengan sigap mematikan kompor dan memindahkan selang pembuangan ke jerigen baru.

Setelah mengepel, Tina dan Akram berpamit pulang. Aku ngekor untuk mengunci pintu.
Tak seperti biasa, aku langsung melengos ke lantai dua. Padahal biasanya aku akan berbetah di bawah entah untuk charge atau sekedar ngecek sosial media.

Kutanggalkan jaket dan jilbab yang kukenakan. Takut maagku kambuh, bubur yang kutinggal segera kupiringkan lalu kusantap.

Tak mau berlama-lama, selepas kenyang kuambil air wudhu untuk bersiap shalat maghrib.

Baru kubuka pintu sebentar...

DEBAAAAAM
Kalau kau pernah dengan tabung gas atau bom yang meledak di dalam ruang hampa, begitulah kira-kira dentumannya.

Listrik padam..
Suara teriakan samar-samar kudengar.
Gelap, pekat, semua nampak hitam.
Redup cahaya bulan jadi satu-satunya penerang.

Intuisiku mengatakan ledakan berasal dari bawah. Aku berusaha tetap tenang sambil berpikir.

"Kak, pake bajuki. Ayo keluar", kataku yang dalam kondisi berdaster tanpa jilbab.

Kuambil rok dan mukena yang sebelumnya kukenakan. Kami melangkah dalam kegelapan. Jantungku masih berfungsi baik, tapi bibirku tiba-tiba terasa dingin.

Aku menengok sebentar ke arah bawah. Kupikir, jika di bawah ada kobaran api. Satu-satunya jalan adalah melompat dari balkon lantai dua.
Alhamdulillah, semua nampak gelap saja.

Satu demi satu anak tangga kutapaki.
Suasana masih gelap dan mencekam,
Terasa pecahan beling dimana-mana.

"Kak, pelan-pelanki nah. Banyak kaca", kaki telanjangku masih terus kuayun. Tanganku berpegang erat pada pegangan besi tangga.

Kucari jalan keluar terbaik, betapa kagetnya aku mendapati semua yang beberapa menit lalu baik-baik saja kini nampak hancur berantakan. Meski samar dalam kegelapan, cukup jelas bahwa kehancuran ini bukan main besarnya.

Mesin yang tadinya bertumpuk jatuh ke lantai.
Sekat bagian dalam yang terbuat dari tripleks berlubang luar biasa lebar.
Sekat di luar jatuh menutupi jalan, pintunya terlepas. Remahan tripleks dan pecahan kaca dimana-mana.

Kutengok sebelah kiri sebentar. Subhanallah, semua sudah hancur tak karuan.

Aku masih sibuk mencari jalan keluar.
Sambil terus memanggil-manggil rekan yang agak dibelakang.

Berhasil menerobos puing-puing, aku terperanjat.
Betapa kagetnya aku saat bagian parkiran sudah penuh dengan warga. Terakhir kulewati pintu kaca yang sudah pecah menyisakan lubang besar dengan pinggiran yang tajam

"Tidak adami temanmu?"

"Masih ada orang di dalam?"

"Kenapa bisa? Apa yang meledak?"

Mereka memberondongiku pertanyaan yang tidak bisa kutangkap jelas.

"Tidak adaji api. Tidak adaji api", kataku berulangkali. Mencoba tenangkan suasana yang sudah diwarnai panik dan khawatir.

Aku menoleh, belum ada tanda-tanda Kak Lutfiyah keluar. Kurasa aku harus bertindak. Aku menatap nanar sebentar (Bengong), lalu berkata

"Ada temanku satu, bisaka pinjam senterta?"

Seseorang berbaik hati meminjamkan hp nya untuk kupakai menyenter.
Aku kembali masuk ke dalam ruangan yang kondisinya mirip dengan bekas gempa di Palu waktu itu.
Kaca hancur berhamburan, plafon goyah.

"Kak... kak....", aku berteriak-teriak.

"Dimanaki lewat?", ia terlihat bingung kemana langkahnya mau dibawa.

Dengan modal senter hp kutuntun ia menuju pintu keluar. Ada rasa lega, meski kondisi sangat buruk. Harus disyukuri, bahwa kami masih baik-baik saja.

Banyak yang bertanya, tapi tidak terlalu kuhiraukan.
Aku masih sibuk mencari salah satu rekan yang barusaja berpamit turun sesaat sebelum kejadian. Seseorang memberiku sandal, aku baru sadar daritadi aku bertelanjang kaki melewati remahan kaca.

"Adai disana satu, tidak apa-apaji", kata salah satu warga.

Tanpa pikir panjang aku lari mengecek keadaannya. Kulihat raut wajahnya pucat bekas ketakutan.
Telapak tangannya tampak mengeluarkan darah segar, tetangga berbaik hati menyekanya.
Aku meminta izin shalat. Meminta ketenangan.

Keadaan tidak segera membaik. Bos datang dengan wajah penuh emosi. Aku menghindar, tak mau ditanya. Batinku masih panik.

"Kenapa bisa?", nyatanya aku tak bisa menghidar. Dia menghampiriku tanpa bertanya dimana kawanmu yang lain.

"Nda kutau, di ataska tadi pak", aku menjawab asal. Keadaanku masih agak trauma.

"Siapa yanh terakhir? Akram yang terakhir menyetrika to?", lanjutnya. Aku hanya bisa menggeleng. Ekspresiku kaku.

Tidak bisa kubayangkan andai ada api yang menyambar. Habislah kami. Berkuranglah satu temanmu. Adikku tidak punya kakak lagi.

Seorang pelanggan laundry yang ternyata anggota pemadam kebakaran sigap menghubungi rekannya.
Jika diizinkan bertemu kembali, aku harus banyak berterimakasih.

Satu unit damkar segera tiba. Aku salut betapa sigapnya mobil merah dengan sirine itu datang.

Dua orang petugas menemaniku masuk untuk menyelamatkan barang berharga.
Sesaat baru aku sadar, ini mirip adegan yang kutonton di layar lebar.
Kami menerobos gelap, bermodal senter canggih dan petugas berpengalaman aku merasa jauh lebih tenang dibandingkan 10 menit lalu saat aku harus mencari-cari pijakan tanpa penerangan.
Sangat jelas bahwa mereka adalah tenaga profesional, mereka menenangkan.

Sesampai di atas langsung kuambil hp dan dompet, juga berganti pakaian seadanya.

Kuaktifkan HP yang sebelumnya ku charge dalam keadaan mati. Baru semenit, HP ku langsung berdering.

Akram

"Halo kak, dimanaki?", katanya diujung telpon.

"Halo, dimanako?", jawabku gak nyambung.

"Kak, dimanaki?? Dimanaki??", katanya berulang dengan nada cukup panik.

Kumatikan panggilannya. Aku tak bisa banyak bicara. Bibirku masih bergetar.
Kuketik pesan segera untuk menjawab pertanyaannya.

"Di ataska.. di lantai dua
Kuambil hp ku"

Setelah berpakaian sekenanya, aku buru-buru keluar. Takut membuat petugasnya menunggu lama.

Kulihat Akram dengan gurat wajah paling paniknya diujung tangga.
Matanya seperti berkaca. Akh, aku tidak akan lupa ekspresi itu.

"Ka imma, Nda kenapa-napa jaki kak?", katanya sedikit terengah.

Aku menghela nafas, lalu kutepuk pundaknya.

"Ndaji dek, nda apapaja", ekspresinya mencair sedikit.

Aku, Kak lutfiyah, erna, Akram juga petugas turun bersama. Tidak kudapati wajah bos. Disinilah aku bisa menilai, siapa yang betul-betul peduli dan mana yang hanya mementingkan dunianya.

Melewati lantai satu kedua kali, Kulihat kembali kehancurannya, sungguh mengerikan.
Aku melihat sebentar, lalu membuang muka.

Akram dan bos sibuk menutup pintu ruko. Aku hanya memerhatikan dari jauh, duduk di pinggiran aspal.
Pikiranku kalut, apa yang akan dihadapi Akram nanti. Ya Allah, hanya pada-Mu kami memohon pertolongan.

Mendapatiku terduduk, raut wajah Akram kembali menegang. Bos juga nampak menghampiri sebentar. Aku buang muka, masih belum bisa kuterima perlakuannya di awal.
Bagaimana orang dengan teganya bertanya kenapa bisa? Padahal ia belum menanyakan apa tidak ada yang terluka?.
Ternyata spesies manusia macam ini memang ada saudara.

"Kak, mauki kemana?", tanya Akram masih dengan wajahnya yang tidak akan kulupa.

"Di kos", Erna paling cepat menjawab.

"Dijemput suami" glek. Kata kak Lutfyah.

"Kita ka imma?, di rumah maki", katanya dengan sorot mata meyakinkan.

"Jangammi dek, di rumahnyama temanku", kataku sambil terus berpikir. Dipikiranku saat ini hanya rumahmu, Tika.

"Mana pale bajuta?", aku menggeleng.

"Ayomi ambilki dulu", katanya bersemangat.

"Jangammi de, gampangji itu kalo bajuji", jawabku.

Tak berapa lama bos memanggil Akram, nampaknya dia akan dibawa bersamanya.
Khawatirku makin menjadi.

Bukannya takut apa-apa. Aku hanya takut Akram yang terakhir menyetrika dijadikan bulan-bulanan. Padahal aku dan Tina tahu, bahwa kompor sudah dimatikan sebelum pulang.
Aku takut, kalau masalah ini dibawa ke polisi dan makin runyam..
Tak terasa air mataku mengucur.

Untuk adik yang barusaja datang dengan wajah khawatirnya padaku akan dihadapkan dengan pertanyaan pelik esok hari. Aku tak mau, aku tak tega.
Mataku berlinang, rekan menguatkan. Aku baru sadar, ternyata aku juga lemah dalam beberapa hal.

Lalu aku membuat kesalahan. Kesabaranku memang sedang diuji, tetapi masih belum bisa kulalui.
Harusnya kutunggu dua orang temanku pergi sebelum aku memacu gas motor.
Melihatku jadi orang paling khawatir, Kak Lutfiyah dan Erna (kasir) meyakinkanku untuk pergi lebih dulu. Salahnya aku menurut.

Di tengah jalan tanpa helm, aku memikirkan banyak hal. Tentang begitu banyak nikmat yang Allah swt berikan kepada kami malam ini.

Bayangkan, baru kurang 10 menit Akram dan Tina pulang. Begitupun aku yang menyusul menaiki tangga. Barusaja Bos pergi ke masjid. Erna si kasir belum sempat duduk di kursi kasirnya. Bahkan pintu kaca belum di buka.

Sebenarnya akulah kasir hari itu, tapi Allah menghadiahiku sakit.

Aku tidak berani membayangkan bagaimana jika aku, tina dan akram masih duduk di tempat yang sama 10 menit lalu. Di samping panci boiler yang terlempar sampai di meja kerja Bos. Bahkan besi besar rangka sekat terbang dan menancap di sekat satunya.

Bagaimana jika Erna masih di lantai dua dan panik lalu jatuh di belasan anak tangga yang sudah penuh pecahan beling.
Masih baik aku dan kak lutfiyah yang bisa cukup kalem menghadapinya.

Belum cukup sampai disitu, seandainya Erna tidak diberi bisikan "jangan membuka pintu", tentu dinding kaca sudah hancur berhamburan mengenai dirinya.
Keajaiban-keajaiban mulai kami sadari saat berbagi cerita.

Bagaimana mungkin kakiku tidak terluka. Bahkan tergorespun tidak saat melewati remahan kaca. Dua kali bahkan. Aku tidak tergores samasekali.

Skenario indah Allah yang paling menegangkan.
Bagaimana dengan apiknya membagi detik demi detik untuk menyelamatkan kami.

Kulihat wajah-wajah khawatir yang baru kutemui.

Ya Allah, ini memang musibah. Tapi entah kenapa aku justru merasakan nikmat paling besar disini. Kata-kata tidak akan bisa mewakili perasaanku saat itu, bahkan sampai saat ini.
😢

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mu

Baru

stronger