Tikaku, lima belas
Hola!
March is coming!
Februari kemarin aku dibully habis-habisan masalah jodoh bla bla bla.
Telingaku panas, bibirku cemberut, tapi justru itu yang mereka tunggu. Kampret!
"Nanti saya yang maing gendang!"
"Saya cetak undangan!"
"Saya sponsor ayam 500 ekor!"
Woiii woiii what's wrong with u are!!
Kenapa ngasengko njo!
Padahal aku masih tertua keempat dan termuda ketiga. Tapi entah kenapa aku jadi sasaran empuk bagi mereka.
Mungkin karena ekspresiku yang sebentar-sebentar cemberut, sebentar-sebentar marah, lalu tertawa.
Sial! Mereka makin puas.
Bahkan salah satunya sibuk menjodoh-jodohkan.
Aku merengut, pilihannya terlalu mustahil.
Lalu kutangkis semua dengan alasan demi alasan.
Ya belum siap lah, belum bisa rajin mandi, bangun pagi, dan bla bla bla
Ajaibnya mereka selalu punya stok peluru yang siap mengalahkan balik semua alasan yang kubuat.
Biasanya aku hanya menghela nafas, lalu menyerah. Tidak ada lagi yang bisa kulakukan.
Oiya, aku dapat kabar super wow malam ini.
Rekan kerja perempuan yang tertua katanya harus pulang kampung.
Dia memintaku untuk mengantarnya ke bandara. Aku sih oke oke sajalah.
Sampai akhirnya..
"Mauki tau alasannya?", katanya bersambung.
Seperti biasa aku memang malas bertanya duluan.
"Apa kak?", sambutku.
"Mauka menikah!"
JEDEERRR
BOOMMM
PLAKK
PRIKITIEWWW
Astaga, aku tidak banyak bertanya lagi.
Aku hanya mengiyakan lalu tidur dalam keadaan jantung bekerja sedikit lebih keras. Hahaha
Pagi-pagi sekali kulihat dia mulai sibuk. Mengurus tiket dan sebagainya.
Aku hanya bisa melihat-lihat, karena shiftku sedang berjalan dan tak bisa kutinggal.
Sore hari dia lebih sibuk lagi. Berulangkali bertanya padaku masalah tiket pesawat, padahal aku saja belum pernah naik pesawat komersil. Terakhir naik hercules dengan logistik yang mendinding.
Aku mengantarnya ke gerai atm, temannya nampak sibuk membantu. Aku membatu ahhaha.
Rencananya akan kuantarkan ke bandara tengah malam ini.
Kejadian absurd terjadi.
Tiket pesawatnya belum dibooking, lalu tak ada satupun dari kami yang kuotanya terisi (maklum wifi).
Pulang ke kosan numpang wifi, booking lalu ke indomart terdekat untuk transfer.
Sampai di indomart, terlihat 3 orang anak alay baku sikut untuk maju ke depan mesin atm.
Tanpa memedulikan, aku melengos dan mengarahkan kak otw halal menggunakan kartunya.
Sudah dimasukkan.
Sandinya ok.
Ku cek wa untuk melihat captured nomer rekening traveloka.
Jedeesss fotonya belum terdownload.
Hahahaha
Awkward.
Saking miskinnya, aku harus balik lagi ke kosan untuk numpang wifi warkop sebelah.
Kang parkir meminta uwwang.
"Kembalija lagi pak!!!" Kuabaikan dia.
Gas motor kupacu, kudownload foto itu secepat mungkin dan kembali ke kk yang tadi kutinggal. Masalah tiket selesai.
Menjelang tengah malam kami berangkat, diiringi gerimis malam juga lampu toko yang sebagian sudah padam.
Aku menyelip sana sini, tidak butuh waktu lama kami sudah di parkiran bandara.
Sesaat dia sadar, kakinya hanya beralas sendal swallow ungunya. Apalah daya, tidak mungkin lagi kami berbalik arah.
Aku agak kaget melihat kondisi bandara yang tumpah ruah oleh pengantar jamaah umrah. Otomatis badanku bermanuver, mencari tempat yang lebih hening.
Menuruni anak tangga, seorang laki-laki terpeleset. Andai icha yang terperosok, tentu perutku sudah sakit karena tertawa.
Sebenarnya tawaku sudah di tenggorokan, tapi lalu takut dosa. Kasian, dia sendirian. Hahaha.
Masuk di mushallah, kami membeku.
Bermaksud mencari tempat sepi dan hangat, nyatanya disini aku malah menggigil kedinginan.
Kusodok tombol AC dengan gagang sapu. Gagal bin malu, aku kedapatan petugas Cleaning Service nya.
Kurebahkan badan segera.
Aku menceritakan apa yang belum pernah kuceritakan padamu.
Maaf, aku terlalu malu. Juga terimakasih, karena kau selalu bisa menerima itu.
Kau ingat? Saat kau menunjuk seseorang dari lantai 3 PKM. Kau meramal dan aku menggeleng. Jujur, saat itu aku tengah berbohong.
Aku normal, tika.
Aku pernah menyukai seseorang.
Dia yang kau tunjuk, yang kau ramal. Memang dialah orangnya.
Sayang, cerita nyata kadang memang sedikit menyakitkan.
Biar kuceritakan...
Aku tertarik sejak pertama kali melihatnya. Bahkan namanya juga belum kutau benar. Yang kutahu, dia adalah salah satu senior di UKM yang kelak menjadi rumah keduaku.
Kau kenal Lilik bukan? Si manis yang jadi teman pertamaku disana.
Untuk kali pertama, aku merasa murung untuk hal yang biasa orang bilang suka-sukaan.
Lilik mengatakan padaku bahwa ia menyukainya. Aku tak bisa apa-apa. Pura-pura mendukung jadi satu-satunya pilihan waktu itu.
Hari ke hari, mereka nampak makin akrab. Lilik memang anak yang supel. Apalah daya seorang imma yang pasif dan hanya bisa ikut tertawa akan lawakan yang bukan untuknya.
Aku tak menyesali mereka dekat, aku hanya agak sedih kala mendapati mereka lari berdampingan sambil melempar tawa. Tiba-tiba energiku bangkit, aku berlari lebih kencang, lalu meninggalkan mereka di belakang.
Paling menyesakkan adalah saat mereka bertengkar kecil-kecilan, lalu Lilik dengan polos mencurhatkan semua tentangnya denganku.
Mulai dari sana aku berpikir, walau bagaimanapun, aku harus segera membuang perasaan bodoh ini jauh-jauh. Aku mulai merelakan. Kurasa Lilik yang besar dari neneknya yang kini sudah meninggal lebih membutuhkan sandaran.
Pelik, Tidak seperti yang diharapkan, hubungan mereka justru tidak mulus sama sekali. Kehadiran lelaki lain dalam hidupnya membuatnya lupa daratan. Dia lalu kecewa, mereka usai.
Terlalu kejam jika aku masih berharap saat mereka sedang sedih-sedihnya. Tapi apa mau dikata, kadang hati memang tak bisa diajak kompromi.
Belum selesai pertengkaranku dengan diri sendiri, aku malah dapat kabar bahwa perempuan yang belakangan kuanggap saudara juga menyukai orang yang sama.
Lalu tidak butuh waktu lama mereka justru jadian, saling berboncengan, termasuk bila berkunjung ke kosanku saat lapar.
Pemandangan-pemandangan itulah jadi santapanku tiap hari.
Terlebih saat aku, lilik, dia dan orang yang kuanggap kakak itu dipilih untuk karantina atlet. Semuanya semakin menjadi.
Aku masih sama menutup-nutupi. Dua orang teman sekosan yang jadi tempat curhat setiap pulang.
Bibirku selalu kaku saat didepanmu, aku tidak bisa banyak bercerita kisah bodoh seperti ini.
Hampir 4 tahun aku menyimpannya rapat-rapat. Hari ini aku memutuskan bercerita, lewat tulisan. Icha tak pernah tahu ini.
Aku pernah mengagumi lagi, tapi memang Allah masih melindungi kehormatanku dengan ragam caraNya sendiri. Aku harus mensyukurinya, biarpun harus kuakui memang agak sakit rasanya.
Aku bercerita sampai tak sadar terlelap, menjelang waktu check in, kami bangun memaksa diri.
Singkat cerita, kulepas keberangkatannya dengan tatap kosong.
"Ba'da shubuhpi kita berangkat", katanya.
Aku mengangguk, tapi sambil nyengir.
Mau ngapain aku 2 jam di bandara sendirian?
Kupacu langkah menuju parkiran, aku pulang tanpa kawan. Di pukul 3 dini hari.
Kebanyakan toko sudah meremang. Sepanjang jalan hanya ada lomba balap. Entah minibus, entah truk. Semua nampak berlomba-lomba.
Bisa kuhitung jari motor yang melintas dari bandara ke jalan skarda.
Aku menikmati sepinya jalanan. Anak-anak yang kuceritakan kaget sendiri. Lalu kubalas dengan candaan.
"Kapan lagi bisa balapan di pettarani??", sanggahku membela sekaligus menyombongkan diri. Hahaha.
Mendekati kosan, semua nampak jauh lebih sepi. Kusinggahi alfamidi, membeli super bubur juga mie instan. Perutku daritadi keroncongan.
Pukul setengah empat, gila! Perjalananku tak cukup setengah jam.
Macet memang jadi penghambat terbesar! Sudah kubuktikan.
Oiya, jangan sampai yang kuceritakan tadi kau ungkit ya! Nanti aku bisa mati karena malu, hehe.
Komentar
Posting Komentar