Dear, yang dulu buluk

Dear, teman kecil

Aku harus terima kenyataan,
Bahwa teman main semasa kecil kini sudah lupa cara bermain.

Harus terima kenyataan,
Bahwa teman kabur ke sungai sekarang ingatannya sudah mulai kabur.

Ada kemakluman,
Kita memang masih tinggal di kota yang sama. Menimba ilmu.
Namun beberapa ada yang di kepala pulau sana. Merantau. Menjajaki tanah penuh harapan.

Suatu waktu kita melepas rindu dengan kampung.
Tentu rumah kalian yang letaknya hampir mengelilingi rumahku.
Hanya jalan aspal dan pohon mangga yang jadi sekatnya.

Sesekali kita bertatapan, lalu berpura tak saling lihat.
Terkadang aku berkukuh, tapi dengan tegas kau membatu.

Inginku berbagi kisah lama yang penuh lugu.
Dimana kau yang lelaki dengan bangga pamer adu lompatan di dinding bedungan
Lalu kami yang setengah perempuan rela hati bertepuk tangan memuji
Padahal sesekali kulihat belebuk juga, haha

Sekalinya hari libur,
Alasan andalan yang telah dirapatkan matang-matang sehari sebelumnya yakni
'Mencuci di sungai' segera di realisasikan.

Mengambil beberapa helai pakaian kotor sebagai barang bukti
Lalu berlari dengan cengingir tanda menang adu argumentasi
Apalagi aku yang anak sekaligus cucu sendiri

Kita melempar saja si barang bukti
Lalu lari menuju hulu sungai tempat si bendungan andalan berdiri
Berjam-jam, sampai sesekali kena tilang dengan orang yang berlalu menuju sawah dan ladang.
"Hati-hati main disitu!", katanya.

Apa kau juga rindu itu?
Teman kecilku..
Yang sekarang sudah tidak ada kecil-kecilnya lagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mu

Baru

stronger