Tikaku, dua
Pagi yang menyenangkan.
Matahari cerah. Awan biru. Semangat baru.
Setelah pulang kampung dalam waktu yang susah kuhitung (hampir sebulan), akhirnya perjalanan 150 km -an ini kembali juga. Cukup tepar karena panas, tapi setelah tidur semalaman badan lemas sudah kembali segar. Bahkan lebih segar dari hari sebelumnya.
Yes! Hari ini aku ke kampus. Dengan dalih mengurus beberapa persyaratan untuk selembar kertas bebas pustaka. Salah satu syarat pengambilan ijazah.
Tapi kau tahu?
Sebenarnya yang membuat pagi ini menyenangkan bukan karena cuacanya sedang cerah, apalagi karena antusias mengurus surat-suratan itu.
Ini lebih karena seorang teman yang menunggu di kampus. Saking semangatnya aku lupa bertanya lokasi.
P
P
Kau dimana? Saya sudah di depan fakultas. Kataku via chat whatsapp
Eh. Ngapain disitu? Gue lagi di perpus lantai 2, balasmu di menit yang sama.
Oh hahaha. Okedeh. Wait me. Awas kemana-mana. Ketikku dengan semangat.
Piuh... gerbang masuk perpustakaan yang sudah selevel bandara kuterobos kilat. Segera menelisik ke arah loker yang kuncinya tergantung tanda belum bertuan. Aku pilih 305. Gantungannya berwarna biru, lalu ditempeli kertas putih bertinta hitam dan di selotip biar tidak lekas hancur tergerus daki.
Si forester biru abu kesayangan kupaksa masuk dan ku kurung dalam loker yang juga biru, lalu kulangkahkan kaki dengan lincah menapaki anak tangga menikung perpustakaan.
Ada banyak kepala di bilik baca. Sambil berjalan, kulirik satu per satu orang-orangnya. Namun fokusku kearah belakang, karena kebiasaan kami memang anak pojokan. Demi colokan.
Kulihat dua kepala. Satu berhijab merah muda, satunya kekuningan. Kususun rencana mengagetkan, seperti biasa jika aku datang belakangan.
Selangkah..
Dua langkah..
Dan ciiiiitttt...
Aku mengerem. Segera kuhapus wajah bodohku setelah sadar dua orang itu bukan mereka yang kumaksud.
Dalam hati ku bergumam. Untung belum kulakukan.. Allah menolongku lagi hari ini.
Setelah kejadian hampir memalukan itu, aku menoleh ke sisi satunya. Akhirnya kebegoanku segera terlupa oleh sumringah teman itu. Siti sudah duduk cantik dengan netbook yang berjendela sembarang.
Siti? Biar itu jadi panggilanku di tulisan ini.
Kami mulai bercakap. Membicarakan apasaja yang bisa membuat tertawa. Sesekali tetangga bilik melirik heran yang kulihat dari ekor mata. Tapi seperti biasa aku tak peduli. Maaf pak, saya sedang semangat! Dalihku dalam pikir.
"KEPADA PENGUNJUNG PERPUSTAKAAN, MOHON UNTUK MENINGGALKAN TEMPAT KARENA WAKTU ISTIRAHAT TELAH TIBA"
Allah, baru juga lima menitan. Tapi kami tak lantas kehilangan imajinasi. Segera melompat dari kursi untuk temukan kursi lain di lantai bawah tempat gerombolan perpus-er menunggu istirahat usai. Aku mengambil tas duluan, ku rapihkan kaset dan uang lima puluh ribuan di dalam tas. Tadinya mau diserahkan, tapi lupa saking tidak fokusnya.
Kami berjalan beriringan, sambil mengenang kebodohan di 2014 saat detektor buku memekik keras karena buku pinjamanku tak terbarcode dengan baik. Sialnya si siti, karena dia yang jalan duluan maka semua tatapan tertuju padamuuu. Hahaha. Kami terbahak lagi, dan lagi-lagi mendapat tatapan sinis orang kalem. Ihh takuut.
Melihat ada dua kursi merah kosong melompong plus meja pula, kami dengan pedenya langsung duduk. Kemudian melanjutkan pembahasan yang sempat terpotong pengumuman. Lagi dan lagi kita bercerita dengan tawa yang menyelanya. Aku bahkan sudah tidak peduli kalau adalagi manusia penuh rasa jijik yang melihat dua orang yang terlalu heboh untuk ukuran mantan mahasiswa. Begitu terus sampai temanmu yang juga teman lamaku menjemputmu untuk menghadiri acaramu.
Mmm senangnya. Bahkan lapar yang kutahan sejak tadi malam jadi terlupakan.
.
.
.
Untuk siti hari ini,
Siti, kau tampak bersemangat seperti biasa. Senyummu tak pernah surut. Mengembang dan terus menghibur.
Hei siti, kita sesama penyuka anime.
Aku suka naruto dan kau suka one piece.
Bedanya aku suka tokoh naruto yang pecicilan, sementara kau menyukai zoro yang kalem aduhai.
Kecintaan kita seolah tergambar.
Aku senang dengan kau yang serupa uzumaki naruto yang ceria.
Dan kau jadi temanku karena aku yang pembawaan cuek seperti roronoa zoro.
Prinsip kita selalu sama, bahkan masih kita selipkan dalam candaan tadi di lantai satu perpustakaan.
Sama bukan berarti cocok, beda bukan berarti tak bisa bersama.
Kesamaan justru membuat bentrok, sedangkan perbedaan akan bersatu.
Pembahasan yang meyenangkan untuk diseriusi sekaligus diterwai.
Tawaku hanya sedikit lenyap saat tanganmu tak sengaja menyenggol punggung tanganku.
Aku merasakan dingin yang menusuk, lebih dingin dari biasanya. Dan aku tak suka itu.
Apa iya? Kau kekurangan pigmen lagi?
Apa iya? Kau kurang berjemur pagi ini?
Hah! Pikiran berisi khawatir terkadang memelintirku untuk tak tertawa terlalu lebar.
Aku tahu, setiap ceria pasti menyembunyikan luka. (Kuharap luka itu hanya luka tertusuk pentul atau tersenggol meja).
Aku hanya berharap, kau tidak bernasib sama seperti tokoh anime kesayangan kita.
Kau harus janji, karena kita akan reuni lagi suatu saat nanti.
Komentar
Posting Komentar