Maaf,
Mak, Pak, maaf ya. Aku jarang sekali menulis tentang kalian.
Bukannya tidak mau, aku hanya bingung akan jadi seperti apa ungkapan terimakasihku pada kalian.
Lihat aku sekarang Mak, Pak..
Sekarang aku jauh lebih cerewet bukan?
Aku ingat sekali bagaimana rasanya malas bicara, entah karena takut disalip atau memang karena sedang tidak ingin boros nafas.
Pernah kudengar cerita, waktu usiaku masih ngompol sana sini. Bibirku memang sedatar itu. Aku tidak sama seperti bayi-bayi lucu sepantaranku.
Di sekolah, aku tidak pintar. Tapi juga tidak bego-bego amat. Aku hanya terkenal karena bagian belakang bukuku yang penuh dengan gambar imajinasi.
Mak, Pak, tahu tidak? Aku pernah dituduh Ibu guru menjiplak gambar, padahal demi Allah aku menggambarnya sendiri.
Aku sedih, tapi juga tidak menangis.
Pernah sekali ibu guru memberi pertanyaan tak terduga, aku yang sepanjang pelajaran sibuk menggambar sana sini dengan pedenya mengacungkan jari. Aku hanya tidak tertarik berebut, karena tak ada yang angkat tangan maka biarlah kucoba menjawab.
Ibu guru lantas membolehkanku pulang karena jawaban itu.
Aku tidak suka matematika, tapi kalau soal keuangan sini biar aku saja. Hehe.
Sejujurnya agak menyebalkan rasanya saat orang-orang menyepelekanmu.
Aku tidak suka,
Aku benar-benar tidak suka disejajarkan dengan orang yg tolak ukur kebahagiannya berbeda.
Tahu tidak?
Aku benci mendengar siapapun membahas kulitku yang belang, penyakitan, bla bla bla..
Mengapa orang begitu mudah menyamakan dirinya dengan orang lain?
Siapa bilang aku malas cuci muka?
Mengganti sarung bantal?
Tidak pakai skincare?
Yang murah yang mahalan
Sudah kucoba semua
Tapi lihat? Ini bukan soal selengkap apa treatmentnya.
Jawaban dari semua ini cuma satu.
Aku kekurangan hormon bahagia
Itu saja.
Menyenangkan rasanya membahagiakan semuanya.
Di lain sisi aku juga bertanya
Lalu bagaimana dengan kebahagianku sendiri?
Selain membahagiakan orang lain tentu!
Jujur, aku belum bisa menemukannya.
Apa yang betul-betul bisa membuat badan ini bangkit kembali.
Entah sampai kapan.
Aku bertemu dengan banyak orang di bangku kuliah.
Menyibukkan diri dengan hal menyenangkan sangat menghibur ruhku yang selalu penuh kabut, gelap, suram.
Tidak bisa kugambarkan bagaimana senangku saat dikenalkan dengan manusia unik yang paling berani merecokiku. Mereka mungkin tidak bisa membayangkan bagaimana sebenarnya aku dulu.
Jangankan senyum, melirikpun aku akan berpikir ratusan kali.
Keras kepala, egois, pendiam, tidak asik,
Ah bodo! Aku tidak banyak peduli dengan hal tak berfaedah seperti itu.
Komentar
Posting Komentar