Rintik di Enam Juni
Rabu sendu.
Matahari di tengah pandemi masih cerah, pagi yang biasa. Kantung mata belum normal bekas sembab semalam.
Entah apa yang membuatku terus berpikir, overthinking.
Siapa sangka, pagi ini akan jadi salah satu hari paling kelabu.
Aku bukan siapa-siapa, hanya teman dari seorang anak yang ceria.
Hanya orang asing yang main nyelonong masuk rumah, buka pintu, Assalamualaikum keras-keras, lalu menyalami pemilik raut muka ceria khas keluarga.
Suasana keluarga yang selama ini hanya difantasiku, tampak nyata.
Ibu yang baik hati, tempat cerita dua anak laki-laki dan satu orang perempuan.
Kadang ngedumel saat nasi yang dimasak tak habis.
Cekikikan bercerita apa saja, akrab sekali.
Anak pertama, kakak untuk dua orang adiknya.
Sepintas, kace satu pendiam sekali. Sependiam itu sampai suatu hari ia joget menirukan kami yang sedang menguleni adonan donat. Kami liat-liatan, speechless, lalu terbahak lama sekali.
Jika ada komando dari Ummi, sesibuk apapun ia, tidak ada kata tunda. Mangtab.
Lalu ada si kace nomer 2, anak yang tadinya diharapkan perempuan.
Aku harus berterimakasih pada Tuhan, karena jika ia terlahir perempuan, aku jadi kekurangan teman. Hehe.
Si tengah ini beda sekali dengan si sulung. Kapanpun aku datang, ia selalu ramah. Ia juga tak pernah ragu membully ku, mengataiku co'mo' atau apalah.
Ini ajaibnya, tak sekalipun aku tersinggung. Wkwkwk.
Kalau dilihat langsung, aku yang lahir 3 tahun lebih lama masih lebih tua dibanding mukanya yang awet plus tingkah yang masih kekanakan. Ahahaha.
Next, bontot.
Teman yang rasanya tidak mau kutinggalkan. Tidak peduli berapa kali aku dibuat marah atau kesal.
Aku kagum sekali melihatnya bisa jadi jembatan untuk keluarganya. Porsi 3 laki-laki dan 2 perempuan kadang-kadang rusuh sekaligus lucu.
Cobaan yang terus datang tidak terkira.
Bolak balik rumah sakit, drop, stres. Akh, kau sungguh kuat, fren.
Aku juga tak perlu menjelaskan seperti apa dirimu, tulisanku yang lalu rasanya cukup banyak?
Terakhir, kepala keluarga. Akrab disapa Ajji, tapi lebih sering kupanggil om.
Untuk sebagian orang, Ayah seperti beliau mungkin dirasa sangat protective.
Kau tidak akan bisa membawa anaknya keluar apalagi sampai malam tanpa alasan yang betul-betul masuk diakal.
Tidak membiarkan anaknya naik ojek atau taxi online sendiri, dan banyak lagi.
Otakku yang masih jiwa muda kadang kesal, susah sekali diajak keluar melihat dunia.
Sosok yang tadinya kukira tegas, keras, perkasa seketika lenyap di kepala.
Jika kau pernah bertemu langsung dengannya, kau akan tau jawabannya.
Pemandangan favoritku saat Ajji makan dengan lahapnya, kadang memuji, tapi tak jarang mengomentari hidangan di piring. Lucunya, walau dikomentari, makanan itu tetap dilahap habis.
Setiap datang ke rumahnya, aku kerap ditanyai pulang atau tidak, bensin aman atau kurang. Astaga, padahal aku sungguh bukan siapa-siapa.
Pembawaan ceria dan menyenangkannya melekat sekali.
Bahkan dengan tangannya yang bergetar, beliau akan sangat antusias memerlihatkan foto dengan kawan lamanya, atau video karaoke dirinya.
Sambil terengah, sekaligus sumringah.
Tapi hei, siapa sangka.
Hari ini, Rabu pertama di bulan Juni 2020.
Pemilik tawa sumringah itu kulihat berbaring, berselimut, beralas kasur seperti biasa.
Satu yang nampak beda, ada kain putih tipis yang tutupi wajahnya.
Diam, sejenak aku mematung.
Belum percaya rasanya mendengar kabar meninggal. Masih berharap aku salah dengar, atau Tika yang mengigau.
Nafasku rasanya sesak. Aku betul-betul hampir tak percaya dengan mataku hari ini. Dua minggu lalu aku masih disapa dan dipesani hati-hati sebelum pulang ke kampung halamanku menghabiskan cuti Ramadhan dan idul fitri.
Ketika seorang kerabatnya menyingkap helaian kain itu, benar, nampak wajah yang sangat familiar. Meski beku, bibirnya nampak goresan senyum.
Ya Allah, lututku rasanya melemah. Aku terduduk di sudut ruangan.
Melihat nanar keramaian. Pecah suara tangis memekik. Untuk beberapa saat, aku hampa. Kucubit diriku. Tuhan, Ya Allah, sakit :'(
Benar, aku tidak sedang bermimpi.
Ajji benar-benar pulang. Telah pergi :'(
Seketika paru-paruku berhenti sejenak, lalu kutarik nafas sangat dalam. Terduduk. Menunduk.
Kuhamparkan pandangan ke sekeliling. Rumah ini masih sama, cat dinding yang sama. Hanya kursi dan meja yang dipindah, juga "keramaian" yang tidak kuduga akan datang secepat ini.
Sekali lagi, kulihat bujuran kaku dihadapan. Lalu mulai mencari orang-orang yang mungkin triliyunan kali merasa kehilangan. Tentu saja mereka adalah Ummi, kace, juga tika.
Tak butuh waktu lama kulihat Ummi, dengan raut wajah yang belum pernah kudapati sebelumnya.
Tatapannya nanar, bingung, kehilangan, kosong... Entah seberkecamuk apa rasanya. Yang pasti, kenyataan ini tidak akan mudah ia cerna. Beberapa sanak keluarga coba menguatkan, menghibur.
Sungguh, jika kau pernah rasakan kehilangan orang yang kau cinta, kau akan tau benar rasanya.
Hampa
Hilang
Tak percaya
Shock
Bertanya-tanya
Berharap
Lalu kembali nanar, terisak.
Pemandangan yang tidak ingin kulihat lagi dalam waktu dekat.
Saat kesadaran mulai berkurang, sekuat tenaga sanak saudara memapah Ummi. Masih dengan wajah sembab dan kebingungan, Ia dituntun agar lekas berpakaian rapih. Ya, waktu pemakaman akan segera dilaksanakan.
Sejauh aku memerhatikan, untuk pertamakali kulihat Kace begitu kacau. Wajahnya layu, mata memerah sembab, rambut urakan tak terurus. Sesekali kulihat terisak. Tuhan, apa ini? :'((
Tika, entah perasaan macam apa yang ia rasakan kini. Untuk kali pertama, kulihat ia benar-benar menjatuhkan air mata. Terisak, nampak tersungkur di pangkuan kakaknya.
Kace terlihat menenangkan. Mengelus punggung sembari coba menyabarkan. Dirinya mencoba tegar, meski jelas baru saja kudapati terisak di ujung barisan kursi belakang.
Wajah periang itu pada akhirnya racau untuk sekian menit.
Disini, aku hanya mematung. Tidak berani mendekat, apalagi menyemangati.
Teman macam apa aku ini, maafkan aku kawan :((
Kau tegar sekali hari itu. Terlihat paling kuat, hanya momen sekian menit tadi rapuhmu nampak jelas. Selebihnya, kau nampak terlalu tegar. Ya "terlalu". Sampai kudapati beberapa orang berbisik membicarakanmu.
Sungguh ingin kusumpali mulutnya. Mereka bahkan tidak mengenalnya, tapi berani berkata sembarang.
Sampai pada akhirnya Ajji benar-benar dikembalikan Pada-Nya, aku tak banyak bicara. Bahkan tak bisa kulihat langsung karena suatu alasan.
Banjiran doa dari kerabat, saudara, teman dan sahabat yang datang semoga mudahkan jalannya.
Tak bisa kugambarkan dengan baik suasana hari itu. Terlalu banyak hal yang berat kucerna. Aku hanya berharap, iringan waktu dan doa-doa akan menguatkan mereka yang ditinggalkan.
Kutahu benar ini takkan mudah. Semoga Allah melapangkan hati seluas-luasnya, sabar sebesar-besarnya, juga ikhlas yang paling tulus dari hati.
Merindulah, kawan.
Itu akan membantu lepaskan beberapa sesak.
Kapanpun kau butuh sesuatu, jangan ragu. Aku takkan banyak membantu. Eh? 🤣
Selamat mengulang hari jadimu. Sudah terlambat, tapi tak apa.
Terimakasih, karena kau dan keluargamu, aku merasa miliki keluarga kedua.
Komentar
Posting Komentar