kamu,

Kamu dituntut banyak hal.
Selama ini, hidupmu dihabiskan hampir sendirian.

Jatuh, berdarah, terluka,
Kamu harus membalutnya sendiri
Belajar bangkit kembali
Menyusun langkah kecil

Kamu bahkan tidak punya cukup waktu masa remaja
Demi penuhi ekspektasi, kamu jadi pandai mengelak sana sini.
Apa yang temanmu katakan tentang pubertas, kamu lewatkan.

Kamu terlalu cinta keluargamu.

Kamu takut kesepian.
Tapi lihat, seumur hidupmu banyak sekali jurang sepi yang kamu lalui.

Kamu dididik jadi kuat.
Kamu dididik untuk tidak menangis.
Kamu diajari bagaimana diam lebih baik.
Kamu dibujuk untuk mengurung diri.

Lalu kamu tumbuh jadi manusia yang tak bisa ekspresikan diri.

Saat malu, kamu diam.
Saat marah, kamu diam.
Saat ingin peluk, kamu diam.
Bahagia pun, kamu tetap diam.
Banyak tanya dikepalamu, tapi kamu terlatih untuk diam.

Kadang-kadang, ingin sekali kamu memberontak.

Menuruti hal yang tak kamu sukai jujur memuakkan.

Kamu sedang coba sedikit membahagiakan diri.
Tapi orang yang kau cintai, kecewa.

Tidak ada kesedihan paling sedihmu selain merasakan kecewa orang tercintamu.
Kamu hanya bisa menangis, sendiri tentu saja.

Sembari mendengar lagu-lagu minor,
Juga sediakan kain bali, mengelap bekas tumpukan sesak yang mengalir dari tubuhmu.

Karena tidak pandai bercerita,
Semua sedihmu, lukamu, susahmu
Kamu menyimpannya sendiri.
Jika terlalu sesak, biasanya kamu memilih untuk menulisnya seperti ini.

Kamu selalu berkeras.
Bahwa mereka barangkali sudah terlalu lelah.
Mereka tidak perlu mendengar hal yang sudah pasti membuat mereka berpikir keras.

Kamu terlatih selesaikan semua sendiri.

Hingga suatu hari kamu berada pada titik dimana kamu dinilai terlalu mandiri.
Bahkan merasa tak butuh banyak orang untuk membantu segala susahmu.

Hebat,
Sial sekali, hal ini justru menjadi bumerang waktu bagimu.
Kamu jadi banyak disesalkan karena terlalu penolak.

Sesuatu yang kau bentuk susah payah di sepanjang hidupmu, jadi alasan kamu banyak ditinggal pergi.

Kamu tumbuh jadi pemilik hati yang perasa, namun dengan wajah beku nan kaku.

Kamu hanya bisa senyum simpul, menunduk, lalu bersegera pulang menutup pintu, matikan lampu, lalu lekas menyudut dalam sepi yang kian akrab denganmu.

Mengenang semua perjuangan.
Asa yang pupus, jiwa yang terhunus.
Coba memoles gores luka yang melebar dan makin beragam.

Tuhan, jika diizinkan.
Aku ingin orang yang mau mendengarku, bersedia melihatku sebagai manusia biasa.

Hanya Engkau yang tau bagaimana aku membangun jiwa rapuh yang setiap saat selalu runtuh.

Hanya Engkau yang tau bagaimana kerasnya aku menahan sesak dada disaat mulai kalah.

Hanya Engkau yang tau, dibalik tawa dan dinginku, aku bahkan harus membuat bayangan seorang kakak untuk memelukku dikala benar-benar hancur.

Maafkan aku, Tuhan.
Aku yakin Engkau siapkan takdir terbaik untukku.
Maaf aku tidak cukup kuat menguatkan kawan-kawanku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mu

Baru

stronger