karena kau, bangkee
Karenamu,
Kutinggalkan banyak hal.
Kuabaikan semua yang kiranya bisa sakiti hati.
Aku yang tadinya bebas, memasung diri.
Feeling sahabat memang tidak bisa dipandang sebelah mata.
Bahkan sebelum bertemu, kulihat pandangnya meragu.
Kalau boleh jujur, sebenarnya aku juga sama ragu.
Hanya saja, kurayu diriku agar sedikit membuka.
Masa iya, harus beku sepanjang hidup?
Pikirku kala itu. Polos sekali kau bloggg bloggg
Sekeras itu aku merayu diri.
Bahkan coba mantapkan hati lewat malam-malam hening.
Kuhela nafas, nampak tak ada jawab Tuhan.
Waktu kian berganti.
Sekian lama coba membuka diri, satu persatu petunjuk mulai buka mataku.
Naasnya, kupilih berkeras kepala.
Mengabaikan, selalu berdalih dengan ragam kemungkinan.
Sibuk mungkin, tak sempat mungkin.
Ternyata, Allah sudah menjawab tanyaku. Aku saja yang bandel.
Kini kutahu salahku, bahwa aku tidak pernah siap untuk pilihan kedua.
Aku terlalu sibuk kendalikan diri untuk pilihan pertama.
Baiklah, tawakkal ku rasanya diuji kali ini.
Benar saja, jawabannya TIDAK!
Untuk waktu yang cepat. Sangat cepat.
Aku rasanya ditampar, maag ku kambuh tak karuan.
Tak habis pikir bagaimana ia semudah itu menyentuh keluarga anak perempuan diluar sana.
Butuh waktu diri ini mencerna segalanya.
Terlalu bertubi, dan menyakitkan.
Ah sudahlah, toh sudah lewat.
Terimakasih telah mengajarkan bahwa doa di istikharah bukan hanya iya saja.
Terimakasih telah membuka mata bahwa tak semua teman bisa dipercaya.
Terimakasih lukanya, mungkin akan jadi sakit mati rasa.
Aku dikungkung rasa bersalah telah menyiakan orang yang dulu kutahu jauh lebih perasa dan pendengar.
Terimakasihloh. Semoga pengecutmu cukup padaku. Biar yang baru mengenalmu dari baik-baiknya saja.
Komentar
Posting Komentar