Sekitar 2015 lalu, aku bertemu kenalan baru. Tidak akrab, hanya tau nama. Saat aku dan teman tertawa, ia ikut senyum. Tipis sekali tapi, aku kadang-kadang melihatnya dari ujung lihatku. Sejauh yang kuingat, kerap ia memakai kaos putih. Jujur, aku tak begitu peduli. kau tau bukan? Aku dijuluki si dingin hati. Hampir di setiap akhir pekan kami bersua, tidak ada pembicaraan. Aku bahkan tak ingat sama sekali obrolan kami, yang kutau pasti, tak ada yang menarik. Posturnya cukup tinggi, entah berapa senti dariku. Sepertinya tak terlalu jauh. Sekali mataku tertumbuk, aku langsung tertunduk. Haha, sekilas kulihat matanya yang jauh besar dari mata minimalis milikku. Setahun berlalu, tidak ada yang spesial. Sama sekali. Lalu tiba hari, kudengar ia akan merampungkan pendidikannya. Saat kakak sepupu menceritakan dengan hebohnya, aku iya iya saja. Takut disangka tak sopan hahaha. Padahal dikepalaku saat itu hanya "apa hubungannya denganku?" Wkwkwk aku sebodoamat itu hahaha. Entah ...
Tuhan, tolong izinkan aku hancur malam ini. Dada rasanya sesak, berbaringpun aku tersengal. Sekeliling hanya kutatap nanar. Menerawang masa depan yang tak jelas. Aku tidak membenci. Menghapusmu dari daftar kontak semata hanya untuk mencegah lukaku kembali tumbuh. Aku hanya berupaya melindungi hati dari pedih yang pernah datang bertubi. Berharap dengan ini, waktu akan memberi izin merela. Kuikhlaskan segalanya, hanya hati belum damai sepenuhnya. Sebercanda itu kisah ini. Sampai si hati yang nyaris mati kini luluh namun lantak. Merasakan sensasi dikhianati lalu ditinggal begitu saja. Dibohongi, kemudian semua berpura tak terjadi apa-apa. Biarkan aku di sudut hening menghancur sendirian :) Aku bukan saja terluka. Aku banyak kehilangan hal. Kini, arah tujuan pun tak nampak. Rasa bersalah, sisa rasa sakit, juga kehilangan, berbaur. Menusuk. Menghambat oksigen, sampai sesak itu terdengar. Kuharap tak menembus dinding kosan. Oh iya, Kalian boleh menghubungiku kapan saja. Barangkali jika butuh...
"Ayah adalah cinta pertama anak perempuannya" Seorang anak yang tumbuh dan besar dengan cinta dari Ayahnya. Dilindungi, disayangi, lebih dari apapun di dunia. Lalu Sang Ayah pergi, meninggalkan cinta dan sisa luka kepergian. Namun, di lain kisah ada anak yang kurang beruntung dihancurkan oleh cintanya sendiri, bahkan dibenami trauma. Ayah yang paling dia percaya akan selalu mencintainya, pergi.. Pergi memunggungi dengan perempuan asing disampingnya. Dibutakan sang penggoda hingga lupa apa yang dia punya. Rumah, anak-anak lucu, juga istri yang selama ini paling disayang. Kehancuran yang tidak bisa dibayangkan anak pendiam nan asing dirumahnya. Saat berbagi cerita denganku, mata perempuan tangguh ini berkaca. Menatap nanar. Aku hanya bisa mendengarnya dengan sungguh-sungguh. Walau tak bisa paham benar situasi yang ia bagi, aku berusaha menangkap rasanya. Untuk sesaat, matanya jelas hampa. Entah seberkecamuk apa hatinya saat itu. Emosi yang ia luapkan tak lain dan tidak bukan a...
Komentar
Posting Komentar