Kalau kemarin aku bilang menunggu 30 jam dan kesal. Sungguh ini tak berbanding dengan mata-mata sendu yang bertahan di atap yang sama.
Aku malu, mendapati diriku yang terlampau egois mencaci prosedur yang tak kunjung ada kejelasan.
Mendiam lalu kembali tumbang.
Mempertanyakan segalanya.
Ketika 70 jam yang kurasa terbuang sia-sia tertampar dengan visual yang membuat peri hati
Mu
Sekitar 2015 lalu, aku bertemu kenalan baru. Tidak akrab, hanya tau nama. Saat aku dan teman tertawa, ia ikut senyum. Tipis sekali tapi, aku kadang-kadang melihatnya dari ujung lihatku. Sejauh yang kuingat, kerap ia memakai kaos putih. Jujur, aku tak begitu peduli. kau tau bukan? Aku dijuluki si dingin hati. Hampir di setiap akhir pekan kami bersua, tidak ada pembicaraan. Aku bahkan tak ingat sama sekali obrolan kami, yang kutau pasti, tak ada yang menarik. Posturnya cukup tinggi, entah berapa senti dariku. Sepertinya tak terlalu jauh. Sekali mataku tertumbuk, aku langsung tertunduk. Haha, sekilas kulihat matanya yang jauh besar dari mata minimalis milikku. Setahun berlalu, tidak ada yang spesial. Sama sekali. Lalu tiba hari, kudengar ia akan merampungkan pendidikannya. Saat kakak sepupu menceritakan dengan hebohnya, aku iya iya saja. Takut disangka tak sopan hahaha. Padahal dikepalaku saat itu hanya "apa hubungannya denganku?" Wkwkwk aku sebodoamat itu hahaha. Entah ...
Komentar
Posting Komentar