Kampret

Hari ini kau datang, mengambil gajimu. Sekaligus mengunjungiku.

Semalam kepalaku kembali tak terkendali. Berat, sakit, lalu sesekali 'menyerang'. Ingin kututup pintu segera, berharap bisa segera rebahkan badan.
Meski begitu, aku masih menunggu tobi. Baju yang dititipnya belum diambil juga.

Ia datang dibonceng temannya, yang juga temanmu. Setauku namanya awal, perawakannya mirip dengan kalian. Kecil-kecil. Haha.
Selepas pamit kudorong si merah masuk ke kandangnya. Kututup paksa si pintu lalu menggemboknya cepat. Kepalaku benar-benar mau pecah.

Berganti kostum lalu shalat isya, astaga, lagi-lagi aku shalat di akhir waktu.
Kurebahkan badanku segera, kutarik-tarik rambutku berharap ini bisa membuatnya baikan.

Ehhh.. malah si perut yang keruyuk minta makan. Ampunlah, stok makanan cuma ada mie instan. Kulirik bayanganku di kaca. Alergi di penjuru muka sudah tak termaafkan.

Kuhela napas sejenak, sekali ini saja. Ini yang terakhir.
Lalu kumasak dan kumakan dengan was-was.

Well, selamat datang penghuni baru muka!! Kesal, tapi hanya bisa pasrah.

Pagi-pagi kau menggangguiku dengan chat yang katamu akan datang.
Kepalaku masih berat, kurasa bangun saja aku akan segera sempoyongan.

Tidak kupeduli katamu yang menyuruhku bersiap, mandikah.. apakah..
Aku malas. Pake banget.
Kulanjut tidurku, kau beralasan membangunkan si tobi.

Setelah beberapa menit, kau menelepon. Katamu kau sudah di bawah. Aku tau dik, suara aslimu bahkan lebih jelas kudengar.
Kupaksa kakiku menuju kamar mandi. Gosok gigi, lalu cuci muka tanpa sabun. Haha bodo amat.

Kuraih rok, pdh, juga jilbab terdekat.
Ada rasa senang kau sudah terdengar semangat. Jauh lebih baik dibanding terakhir kali kulihat.

Sejujurnya aku malu menampakkan diriku. Wajahku sedang tak karuan, apalagi hidungku yang kurasa bercula. Menjijikkan.

Kau nampak makin bersih, makin kinclong (maluku makin semakin-makinnya). Kuingat kawanku ridwan, si cantik.

Senyummu sudah seperti biasa. Sayang, aku sedang tak bersemangat. Bahkan kurasa diriku masih setengah sadar.
Aku menulis ini masih dengan kepala berat, juga keringat dingin yang mengucur di jidat.

Kalian mulai berceloteh seperti biasa. Beberapa kali omonganmu terpotong. Aku tidak enak, tapi belum berani minta maaf. Siapa suruh juga, kau hilangnya kelamaan! Aku bahkan hampir lupa mukamu seperti apa!

Iya, iya. imma memang selalu benar. Kau harus terima itu. Haha.

Sebelum pulang kau meminta untuk aku menunggumu. Katamu aku tak boleh kemana-mana.
Yakali kemana-mana, turun lantai satu saja aku sudah teler begini! Haha.

Entah tadi jam 8 tobi menelepon. Aku kurang tau, dia datang denganmu atau tidak. Yang jelas, badanku masih terlalu lunglai diajak turun tangga.
Semoga saja kau tak datang, aku tak mau kau kecewa.

Tapi jika kupikir lagi, mungkin memang kau tak datang. Haha. Semoga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mu

Baru

stronger