Tikaku lima

Hari ini kau ujian. Mengenakan kemeja putih lengkap dengan blezer hitamku yang selama ini kuanggap jas.
Kau tampak pucat, ini karena kau tidak enak badan. Juga bekas begadang semalam.
Aku menemanimu, tapi dalam bentuk tidur. Aku terlalu lelah, kerjaan tadi pagi terlalu banyak. Ah, sudahlah.

Kau tau?
Kemarin waktu kau menelepon, mengabarkan ujianmu yang begitu mendadak.
Rahangku hampir copot. Saking menganganya. Aku lupa bahwa telinga kiriku sedang sakit-sakitnya.

Kau terdengar lebih kaget, lebih lelah dan sedikit memelas.
Kau harus tahu, aku adalah makhluk tidak tegaan apalagi untuk masalah teman.
Aku mulai mengarang cerita dan alasan untuk mendapat izin esok hari.
Aku tak diizinkan seharian, seperti dugaanku.
Tapi setidaknya aku bisa pulang lebih awal, dan itu cukup melegakan.

Aku duduk, menatap layar laptop kerjaku. Tampak sedang melamun. Tapi sebenarnya aku sedang menyusun rencana, membagi setiap menit waktuku sebaik mungkin.
Menjelang pukul satu siang, leherku mulai encok. Puluhan kali kulirik jam dinding.

Sekali si penggantiku datang, bahkan dia belum duduk, kurapihkan segalanya dengan cepat. Ceklok, dan segera kabur.

Grand Toserba, toko andalan tercintaku.
Kugunakan uang terakhirku untuk selempangmu esok, aku sempat memohon agar bisa diselesaikan hari ini juga. Tapi aku kurang beruntung. Aku harus menunggu besok, atau setidaknya malam ini. Tapi tidak mungkin. Pasti aku terciduk.

Gas motor kupacu. Nyelip sana sini.
Sampai di rumah, kuparkir sembarang si motor yang sebulan tak dicuci. Membuka gembok, lalu lari ke kamar mandi.
Mandi seadanya, lalu berpakaian sekenanya.
Aku tak pernah merasa selincah ini.
Tidak butuh waktu lama aku sudah di fakultas, mencarimu disana-sini.

Kutemukan kau di lantai dua, jongkok seperti biasa. Di balik kursi pula.
Jelas wajah putus asamu. Lelah, juga ingin pulang.
Ingin ku traktir kau eskrim, tapi apadaya. Uang dikantong sisa untuk bensin.

Kita kelaparan, singgah di depan sebuah kampus. Lalu membeli sekantong bakso-baksoan dan makan dengan lahapnya.
Ditemani debu jalanan lengkap dengan polusinya. Aku tak peduli, kita tak peduli.
Lalu pulang melepas lelah.

Hari ini kau nampak sama pucatnya.
Waktu menunjukkan pukul 2 siang, dan kudapati kau duduk melantai di depan ruang jurusan.
Aku tau, kau tak begitu suka.

Belasan teman laki-laki yang tengah menunggu salah satu temannya ujian berlalu lalang.
Ada yang ikut jongkok bersama.
Ada yang mengintip.
Juga ada yang bolak-balik tidak jelas.
Dalam hati aku berpikir, betapa beruntung orang yang sedang diuji itu.

Kita lalu bergegas mencari ruang yang kosong.
305 yang ada di SK mu jadi sasaran utama.
Kau membuka pintu dengan sembarang, eh ternyata ada penghuninya. Hahaha.
Lalu kau menutupnya dan kita tertawa bersama.

Beranjak dari sana kita akhirnya menemukan sebuah ruangan.
Ruangan kecil yang kita sulap jadi ruang ujian.
Aku mengangkat dua meja dari luar.
Kau harus bersyukur punya teman Hulk sepertiku. Hahaha. Aku harus sombong.
Lalu kursi kecil diseret begitu saja ke belakang.
Meja ditata menyerupai huruf U.
Begitupula kursinya.

Seorang teman datang membawa berkasmu.
Aku bergegas turun mengambil map.
Ngos-ngosan. Maklum, sudah jarang naik tangga.
Lalu naik lagi, berusaha menghindari keramaian.
Baru saja kuinjak lantai 3, eh kau menelepon. Sialnya hp ku terpencet. Dan aku tak punya cukup pulsa untuk menelepon balik.

Kau menelepon lagi, kedua kali.
Katamu makanan sudah datang.
Oke, aku turun.
Lalu kuangkat nasi dan airmu.

Belum juga reda getar di lutut.
Seorang ibu dosen meminta tolong diambilkan hp nya.
Naik tangga keempat kalinya benar membuat betisku mau mati rasa. Hahaha.
Aku menertawai diri sendiri.
Betapa lemahnya aku sekarang.

Semangatku mulai ada, saat kudapati teman cantik kita, si Rid.
Dia duduk manis menjaga tas dan beberapa makananmu.

Aku bisa merasakan sedihmu.
Bagaimana tidak? Mamaa sudah tidak disini, lalu si om juga tak bisa datang. Yang kuyakin karena larangan tante super kejam dan jahat.
Aku kesal, kau pasti apalagi.

Ah sudahlah, aku tak mau kesal hari ini.
Aku senang melihatmu memakai selempang dan tersenyum.

Akhirnya perjuanganmu selesai juga.
Penantianku berakhir.
Kita sudah sama-sama lulus.

Karena kau mungkin belum tau, bagaimana sedihnya aku saat tau kau tak bisa bersamaan dengaku.
Celakanya aku tak bisa memaksamu.
Karena sering kau marah dan kesal.
Padahal aku hanya ingin kau lekas selesai.

Aku hanya ingin berbagai pengalaman.
Tapi seringkali kau beralasan, juga dengan raut wajah kesal. Dan aku hanya bisa mengalah, dan alihkan pembicaraan.

Tuhan memang baik.
Karena hari ini kau diizinkan selesai juga.
Dan aku ada. Berfoto denganmu. Juga beberapa temanmu yang datang.
Selamat yah.
Kau tak perlu sedih, ada aku dan si Rid yang temani. Hahaha.

Congraduation...
Zoro

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mu

Baru

stronger