Kenalkan
Dia adalah lilinku yang benderang di penghujung gua yang pekat.
Dia adalah manusia pertama yang membuatku merasa tak perlu malu untuk jadi diriku sendiri.
Mengajarku bermain bersama, bukan bermunafik bersama.
Dia tak sekedar hebat membuat banyak orang tertawa.
Bagai hangat mentari di pagi bersalju.
Aku, yang dingin. Yang teramat pemalu.
Dia berhasil mencairkan dingin hati milikku.
Dia ajarkanku tersenyum, bahkan tertawa tanpa malu.
Dia adalah sahabat paling berharga yang kumiliki.
Selalu bahagia..
Selalu tertawa..
Selalu tak berbeban..
Selalu bersemangat apapun situasinya..
Tetapi
.
.
.
Dia berbohong
Bohong untuk semua senyuman bahagia itu..
Bohong untuk semua tawa tak berbeban itu..
Kali ini.. Aku ingin berhenti bodoh percaya akan senyum palsu itu.
Karena aku tahu benar, tawa itu tak lebih dari derita yang bertopeng bahagia.
Berhentilah..
Berhenti untuk sekedar memberiku tawamu..
Berhenti memanjakanku dengan menuruti egoku..
Aku ingin kau menangis, curahkan apapun gundah yang sebenarnya kau rasa.
Utarakan amarahmu apabila ada denganku.
Menangislah, itulah mengapa Tuhan menciptakan air mata. Karena
Dengannya, api di dadamu akan padam.
Tatapanmu tak bisa mendustakan pilu yang ganas menyertai tubuhmu.
Tatapanmu, adalah tatap sajak yang berisi rindu. Meski tak dapat kupahami.
Kau pernah bilang..
Bahwa yang paling terlihat tegar adalah mereka yang menderita luka yang terdalam.
Benar kau lilinku.
Aku senang diterangi. Namun, sampai mana kau bisa bertahan dengan tubuhmu yang terus meleleh untukku? Untuk semua orang bahkan...
Selama apa cahaya itu akan benderang? Ku harap lama.. ku harap lama.. ku harap lama..
Dia.
Dia adalah Tikaku yang kucerita.
Temanku. Yang melebihi siapapun.
Komentar
Posting Komentar