Tikaku, sebelas

Rasanya baru kemarin aku bingung menatap judul tikaku sepuluh yang sudah banyak tersalip tulisanku yang lain.
Aku bukan tak punya topik untuk menuliskanmu, tapi kurasa hari ini akan jadi topik paling sedih.
Plis, jangan ketawa dulu. Aku serius. Bayangkan mukaku, ekspresiku.

Aku memang makhluk paling suka mengeluh. Aku sadar sekarang.
Kemarin aku begitu mengeluh tentang bagaimana adik-adik yang kuceritakan sebelumnya sangat menyebalkan.
Kami akrab, tapi hari itu mereka membuat tanduk ketigaku timbul dijidatku yang lebar. Aku mendengus. Mukaku kurasa memanas dan sudah pasti merah.

Aku bosan ditanyai. Dimana Yusran? Imma, dimana akram?
Mereka tak kunjung jera. Aku merengut-rengut pagi itu. Tinjuku kupukulkan ke meja setrikaan yang lembut, hehe. Siapa juga yang mau kesakitan.

Harusnya hari ini aku bisa berleha-leha sepanjang hari. Tiduran, selimutan, guling-guling ditemani hujan pagi. Tapi apa mau dikata, mereka kembali berulah. Aku mulai diambang batas sabar.

Pikiranku mulai kalut, kujawab chat mereka seadanya. Oh, ok, o. Hanya itu.

Lalu aku berpikir, sudah cukup lama aku tak menemuimu. Siluet ummi mu dikepalaku tiba-tiba muncul.
"Gue butuh suasana baru", gumamku.

Segera kulangkahkan kakiku dengan kesal ke kamar mandi. Aku sudah tidak peduli lagi dengan alasan demi alasan yang dilontarkan kedua bocah itu. Yang kumau hanya datang ke rumahmu, makan, kenyang, ketawa. Hehehe.

Selesai berpakaian, aku bergegas turun ke lantai bawah. Berpamit seadanya dengan raut muka yang masih ketus. Kulihat si bos mencoba kembali bertanya dimana keberadaan dua bocah itu. Maklum, diantara semuanya aku memang yang nampak paling akrab dengan mereka.
Sampai salah satu rekan berkata, kau terlalu sayang dengan mereka.
Aku tercekat, mungkin ini memang saat yang tepat memberi mereka pelajaran.

Melihat lirikan plus raut mukaku yang tidak menampakkan secuilpun keramahan, si bos itu memutuskan berbalik badan dan kembali ke pekerjaannya. Aku memicing sedikit, berpamitan, lalu tancap gas.

Sepanjang jalan gerimis mulai turun. Jilbabku mulai basah, aku tidak peduli. Dipikiranku sekarang hanya ada "bombe".

Hujan makin deras, kulihat beberapa pengendara mengenakan jas hujan.
Akh, kali ini aku betul-betul tidak ingin buang waktu untuk mengerem, menurunkan standar, repot-repot memakai selapis baju lagi.
Aku benar-benar dikendalikan emosi.

Sampai di rumahmu, aku agak kuyup. Tapi tidak kentara. Aku hanya ingin kau membagi tawamu hari itu.
Aku benar-benar dalam keadaan jengkel bin marah bin emosi hari itu.

Ya, seperti biasa. Kau tak pernah gagal mengembalikan moodku. Kulihat banyak rentetan chat dan panggilan dari mereka. Aku tak hiraukan, bodo amat. Aku sedang ingin bersenang-senang.

Aku sudah agak lupa bagaimana ceritamu tentang pemeriksaanmu di rumah sakit.
Ini bagian paling kubenci, sekaligus paling kunantikan.
Aku selalu ragu dengan analisa doktermu di puskesmas yang selalu bilang kau hanya batuk biasa.
Dilihat dari manapun kau sedang "tidak batuk biasa", aku yakin. Mungkin dokter itu harus sekolah lagi.

Apalagi sekarang kau tampak jauh lebih kurus, tadinya aku iri. Badanku yang begini-begini saja tidak mau diajak kompromi untuk bisa beli baju lebih longgar. Aku rindu perut yang tidak perlu diapa-apakan supaya tidak sesak. Hahaha.

Kurusmu lebih kentara lagi saat kau tidur dan memunggungiku. Aku bahkan tak berani melihatnya lama.

Inilah aku, selalu berusaha berpikir yang baik saja. Tapi masih penuh keraguan.
Kulitmu juga semakin putih, tepatnya pucat.
Meski akhir-akhir ini kau memang tak kena matahari. Aku tidak yakin hanya karena itu alasannya.
Sebab aku pun sudah jarang berjemur-jemuran. Tapi kulitku begitu-begitu saja.
Masih coklat kehitam-hitaman. -_-

Meski keadaanmu begini, kau masih tampak semangat tertawa, sekaligus membuat kami tertawa.
Aku senang, yang kuharap memang seperti ini.
Tapi apa kau tau?
Kadang-kadang aku suka bertanya pada diriku sendiri.
"Mengapa kau bisa nampak begitu ceria di keadaanmu yang seperti ini?"
Meski naluriku berkata, kau pasti seringkali menangis sendiri. Entah dengan atau tanpa air mata.

Hari itu tak banyak pembicaraan panjang. Aku sadar, aku samasekali tak asik diajak bercanda. Pikiranku masih bercabang.
Esok hari aku pulang dengan bimbang.
Apa aku harus baikan, atau kucueki saja satu hari.
Kau bilang jangan bombe, tapi lalu kuingat lagi katamu. Asal jangan tiga hari.

Sampai di depan ruko, aku hanya menjawab sapaan seorang rekan. Bukan Akram Yusran.
Melewati mereka aku hanya benar-benar melengos, aku samasekali tidak berniat melirik apalagi menyapanya seperti biasa.

Kudengar mereka kasak kusuk
"Siapa itu? Kak imma?"
"Gara-gara kau tobi! (Sapaan Yusran)"
Akram terdengar mendominasi, masih dengan dialeg bulukumbanya yang sangat lucu.

Jujur saja, bukannya marah. Aku malah cekikik sendiri. Aku puas membuat mereka merasa bersalah.
Hari itu mereka lebih banyak diam.

Kedua kali aku melewati mereka untuk mencari makanan, Aku masih sama. Melengos tanpa menoleh pun melirik.
Ada rasa tidak enak, tapi aku harus tahan. Mereka harus belajar.

Aku benar-benar gelisah siang itu. Bukan kebiasaanku seperti ini.
Shift ku di sore hari. Jadi aku tiduran sebentar.
Tak seperti biasanya, mereka sudah pulang. Aku agak khawatir kalau-kalau mereka menabrakkan diri, atau lompat di jembatan. Hahaha.
Mereka tak akan sebodoh itu.

Malamnya si kecil Akram nge-chat lagi.
Katanya dia tak bisa datang, urusan membersihkan rumah barunya belum selesai.
Aku menjawab seperlunya.
"Iya selesaikanmi"
"Besokpi minta tandatangan"
.
.
"Iye kak imma, makasih. Kaka imma memang andalangku"
.
.
"Ih beleng"
.
.
Read
.
.
Semenit
Dua menit
Lima menit

Alamak, sekarang aku merasa bersalah mengatainya "beleng".
Aku gusar sendiri, lalu memutuskan minta maaf. Ya! Minta maaf memang melegakan.

Tika, andai kau jadi aku. Apa kau akan seperti ini juga? Hehehew.

Singkat cerita, kami baikan. Kuutarakan kekesalanku padanya, lalu dibalas maaf diikuti janji. Aku cukup lega bisa tertawa lagi.

Ekhem.
Sekarang aku tebak. Pasti kau sedang menantikan part sedih yang kumaksudkan?

Em

Kupikir ditunda saja untuk part 12.

Aku menulis ini sambil bekerja, kalau menangis tiba-tiba kan tidak lucu, hehep.

Oiya, sebelum pulang aku sudah berjanji denganmu kan?. Bahwa aku akan datang di hari Rabu. Tunggu ya!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mu

Baru

stronger