Bodo amat njiirr
Apa ini yang namanya beranjak dewasa?
Kurasa sekarang diriku sedang berada di titik dimana aku mulai bisa menerima diriku. Yang ngambekan, emosian, tapi kalau peduli kadang sampai bego tak terkira.
Aku berdiri di atas titik nyaman yang orang bilang kesendirian.
Kurasa aku sudah tidak lagi butuh tongkrongan, juga basa-basi apa kabar.
Sebenarnya tidak melulu bisa kunafikkan, bahwa kesepian itu kadang menyiksa. Aku hanya mulai terbiasa dengan segala kekecewaan, hati yang patah, juga wacana yang lagi-lagi jadi kenangan.
Aku mulai memahami cara Tuhan mendidikku menjadi orang yang lebih kuat.
Bertemu dengan banyak orang yang sebagian kecil jadi teman, sebagian lainnya jadi pelajaran.
Belajar untuk tidak menjadi benalu bagi sesama manusia
Bersyukur akan segala nikmat berupa teman dan kerabat yang selalu ada.
Fase terberat yang kulalui tidak lain saat kehilangan satu demi satu orang terdekat.
Entah mengejar cita, cinta, atau pulang selamanya.
Aku makin akrab dengan kesendirian.
Aku belajar pasrah. Karena aku tau, Memaksa untuk tak jadi asing benar-benar memuakkan.
Membatu untuk memiliki hanya perparah luka yang tak dikira.
Berharap selamanya justru melahirkan kecewa-kecewa baru yang menelan kenangan.
Titik dimana dikelilingi beberapa orang saja menjadi kebahagiaan luar biasa.
Sudah tak terlalu kupeduli, yang datang juga pergi.
Yang perlu kulakukan hanya membatasi pijakannya. Melarang masuk ke zona vital. Agar jika pergi, tak usah kusesali. Toh, juga tak diberi hati.
Komentar
Posting Komentar