Tikaku, sepuluh
Aku tak banyak bercerita tentang keluargaku padamu.
Suatu waktu aku merasa tak adil saat kau dengan gamblangnya menceritakan padaku kisah hidup yang didominasi keluargamu yang selalu berhasil membinarkan mata dinginku.
Kalau kulihat-lihat, sebenarnya kau cukup handal dalam berbicara.
Sekali kau memulai cerita, baik itu nyata atau mimpimu semalam, segalanya terasa nyata diotakku. Begitu mendetailnya sampai-sampai otak pas-pasan ini bisa menggambarkannya dengan baik lewat theater of mind yang kupunya.
Kau hanya terlalu gugup saat menghadapi lawan bicaramu yang baru, terlebih mereka yang kita anggap penting.
Aku yakin, sebenarnya kau bisa jadi semacam Marketing yang handal.
Kau fasih sekali dalam menjelaskan segala hal, terlebih untuk spesies sepertiku.
Aku selalu senang menunggu akhir dari ceritamu.
Kadang-kadang aku berpikir, ceritamu itu sebenarnya tak seberapa lucu, tapi pembawaanmu lah yang membuatku terus tertarik mendengarnya sampai titik terakhir.
Kita berbeda, tapi saling melengkapi.
Aku meyakininya. Kau pasti mengataiku alay. Bodo.
Semakin lama, semakin banyak pembuktian.
Aku tak pernah betah berlama-lama dalam membagi kisahku sendiri.
Entahlah, kurasa itu tidak cukup menarik.
Aku selalu tak percaya diri membawakan materi kehidupanku sendiri.
Rasanya seperti ingin lari.
Kau memerhatikannya bukan?
Tiap aku mulai bercerita, pasti akan ada acara gagap-gagapan. Mulai bego. Seolah tidak benar terjadi...
Ya! Aku sendiri juga merasakannya.
Makanya aku tak suka berlama-lama.
Kalau boleh, kau sajalah yang terus bercerita. Aku tak pernah bosan.
Bibirku tak pernah lebih dominan dari telingaku.
Aku memang terlahir untuk banyak mendengarkan, tidak ahli dalam berbicara.
Lalu kau datang, dengan pembawaanmu yang berbanding terbalik denganku.
Kemudian kita saling menobatkan sebagai teman dan keluarga.
Ah, betapa bersyukurnya.
Hari ini kau menelepon.
Nada panggilanku yang menggemparkan seisi kantor segera kugeser cepat.
Kudengar suaramu.
Seperti biasa, aku akan menunggumu bersalam.
Aku tak suka kita tabrakan salam. Hahaha.
Kau mengabariku tentang rencana ramah tamah dan syukuran wisudamu.
Alangkah senangnya aku, akhirnya aku bisa kembali hidup tenang.
Selebay itu? Iya memang -_-
Aku melankolis untuk hal-hal tertentu.
Jangan geer.
Kau terdengar agak lesu mendengar jawabanku yang setengah-setengah.
Apalagi ditambah alasan adikku akan datang dari kampung. Kau nampaknya mengerti, tapi sedikit kecewa.
Aku hapal benar nada itu.
Dalam hati aku cekikik, mana mungkin aku tak datang?
Jika hanya soal jadwal pekerjaan.
Tenanglah, ini musim hujan. Alasan sakit adalah senjata utama. Hahaha.
Kau kenal aku kan? Aku adalah ratu ngeles sedunia. Biar kunobatkan diriku sendiri. Hahaha.
Sementara kita beradu tawa. Aku masih sibuk dengan pekerjaanku.
Jika costumer datang, aku akan memberitahumu.
Tidak berapa lama, kau pamit pulang. Ajimu sudah datang.
Kau berjanji akan meneleponku kembali, aku menunggu. Tapi nampaknya kau terlampau sibuk, atau sudah lupa.
Aku maklum, aku tau kau memang pikun. Hahaha.
(Padahal masih pikunan gue)
HP ku kembali berteriak hebat.
OST Naruto yang bersemangat membuat badanku otomatis mencari keberadaannya dan langsung kuangkat.
Bukannya kau, ternyata adikku yang sedang berkolaborasi dengan Mamakku.
Dia excited karena besok malam akan menemuiku disini.
Aku tak kalah semangatnya.
Kupesan berbagai buah dan sayur kesukaanku.
Kami saling menyinyiri. Saling meledek karena barang bawaan yang menurutnya sudah sekelas TKW yang hendak merantau.
Aku tak mau tau, lidahku sudah terlalu rindu kampung.
Aku mau sesuatu yang ditanam langsung oleh bapak atau kakekku di kebun.
Semangat si curut kian membara.
Katanya dia akan makan enak, sebentar lagi aku akan gajian.
Kampret, padahal dua minggu belakangan aku survive setengah mati untuk bertahan hidup. Hahaha.
Apa yang lebih membahagiakan dari membahagiakan orang lain?
Tidak ada. Samasekali tidak ada.
Tujuan hidupku hanya itu.
Aku tak mau membebani, aku ingin membahagiai.
Sekarang aku belum tau caranya, tapi setidaknya sudah kumulai dengan langkah kecil penuh ambisi ini.
Ya! Kuurungkan niatku resign dari koperasi menyedihkan tempatku sekarang bertelepon.
Daripada mencari tempat lain yang belum tentu keadaannya lebih baik, mending aku bertahan. Lalu suatu saat menjadi penanggung jawabnya. Kemudian kuganti semua peraturan lelucon ini dengan sesuatu yang lebih manusiawi.
Kubakar rasa malasku sampai jadi abu.
Sudah kuputuskan, aku akan memimpin kantor itu!
Entah kapan, tapi aku akan melakukannya. Tunggu saja.
Ini bukan sombong, tika.
Ini hanya sebulat tekad yang sudah kutanam dalam-dalam.
Aku akan membuktikannya.
Sedih rasanya mendengar keluargaku masih terkendala beberapa masalah ekonomi.
Tapi aku selalu berbangga.
Keluargaku tidak betah berhutang, aku sungguh mengagumi dan akan kuteladani.
Jika aku tak bisa mengumpulkan uang yang cukup di satu tempat kerja.
Bagaimana jika kucoba bekerja di dua tempat sekaligus? Hebat bukan?
Aku ingin mencobanya, semoga Tuhan memberi jalan. Doakan aku yaaa.
Komentar
Posting Komentar