Tikaku, satu
Kau adalah jiwa yang tangguh. Kau meyakinkanku dengan sorot api pandangmu. Di sisi lain, ragamu kadang tak selalu suka dengan ketangguhan ruhmu yang berapi-api.
Suatu waktu kau bercerita, kala semalam kau muntahkan darah. Tentu dengan gaya bicaramu yang selalu mengarahkanku pada sisi lucunya.
Kau bercerita, Ibu mu terlihat khawatir, juga kakak laki-lakimu yang tak kalah pucat.
Setelah kehilangan keluarga keduaku di 2016 lalu, kau dan juga keluargamu seolah merangkul dalam keterpurukanku. Meski tak kukatakan, kuharap kau mengerti. Dan itu terjadi. Kurasa.
Kita bertemu hari ini, setelah sekian hari dan bahkan bulan. Apa kau tau? Ada rindu yang terlalu gengsi untuk disampaikan di tiap hari tanpa gelak candamu.
Tadinya aku mencoba berpikir jernih. Mengesampingkan logika, jika bisa ingin kututup mata saja. Kau masih sama. Suaramu masih semenggelegar biasanya. Terlebih tawamu. Yang kerap mendapat tegur dan lirik sinis yang tak pernah kita gubris.
Kau tahu? Seorang teman datang menanyaiku. "Mengapa kau tak tampak seperti biasanya? Kau tampak pucat dan bahkan pasi". Teman yang kita anggap ibu langsung menyela, bahwa kau pucat karena tak pernah terasupi sinar matahari pagi. Sementara mereka berdua tersenyum, Aku hanya bisa memalingkan wajah. Berharap itu benar. Berdoa dalam hati bahwa kau memang hanya benar-benar kekurangan pigmen hari ini.
Hei. Jika bisa kuceritakan kisah kemarin, mungkin kau tak akan percaya. Karena yang kau yakini, aku hanya seorang teman yang gengsian dan egois. Tapi kurasa kau mesti tau ini. Beberapa waktu lalu, saat kau tak sekali pun menjawab panggilan di hp mu, saat kau tak pernah menggubris pesan-pesan singkat yang jelas-jelas terkirim, aku mulai gelisah. Bukan hanya sekali, tapi berirama. Terus seperti itu, sampai aku memastikan kau baik-baik saja dengan cara memaksa datang ke rumahmu tanpa sepengetahuan siapa pun.
Aku bisa membaca raut wajahmu. Kau samasekali tak senang dengan kehadiran teman kita juga aku yang tiba-tiba datang tanpa izin seperti biasa. Meski aku baru mengenalmu 3 tahun belakangan, aku tahu benar, bahwa bahasa tubuhmu sedang tak ingin diganggu. Namun lagi-lagi aku harus egois untuk menemuimu. Memastikanmu dalam keadaan baik dan menepis pikiran bodohku.
Bukan kau saja yang tampak gelisah, bahkan Ibumu yang biasanya selalu tampak bersemangat, hari itu entah kenapa aku melihat ada awan mendung di tatapannya. Aku bukan paranormal, teman. Aku hanya mencoba berkomunikasi dengan hati, bukan gaib.
Bisa kulihat dengan jelas, saat kau mulai mencari alasan demi alasan agar tak penuhi pinta kami menyambangi kampus. Tempat kita bertemu, saling kenal, bersahabat, dan kini sudah seperti saudara.
Kau berkali-kali mengelak, dengan bola mata yang bergerak kesana kemari. Menunjukkan rasa ketidaknyamanan sekaligus tidak enakan. Aku tak suka itu, tapi setidaknya kau tetap berjanji akan datang esok lusanya. Bibirku diam, tapi jujur saja hatiku sudah kegirangan.
Pagi-pagi buta aku bersiap, dengan beban menumpang di rumah saudara, tentu aku harus mengerjakan pekerjaan rumah. Aku menyapu, mencuci piring, memasak, juga menggosok pakaian bekas kemarin. Semua kulakuan dengan semangat, berharap hari ini kau dapat keajaiban untuk mendapat hidayah semangat untuk memperjuangkan skripsweetmu yang terbengkalai belakangan ini.
Motor bebek maroon milik bapak kupacu melewati truk dan puluhan kendaraan lain. Mendapat info kau sedang di rumah 'mama' sudah menambah energi hidupku (saat ini pasti kau mengataiku alay).
Aku mengendap, mendekatkan telinga di balik daun pintu putih kamar kost si mama. Dengan naluri jail yang kupunya, Aku mengagetkan kalian dengan ketukan pintu yang amat keras. Benar saja, Kalian sontak memarahiku meski masih dalam keadaan tertawa dan jantung bedebam. Sekantong batagor isi 3 cup segera kuberikan sebagai sogokan. Dan taraa makan bersama yang nikmat tiada tara sudah jadi obat runtuh jantung mereka. Hihi.
Komentar
Posting Komentar