Tikaku come back 😆
Sudah 3 hari aku merasa agak kurang enak badan.
Suhu badanku menghangat selepas perjalan panjang di tengah malam. 170 km, berteman angin malam pantai. Juga kantuk yang setengah mati kulawan.
Ditengah perjalan kami menyempatkan tidur sebentar di mushallah pertamina yang tampak tak terawat.
Motor yang hampir oleng berkali-kali membuatku mengalah untuk istirahat kembali.
Kurasakan angin menerobos jaketku. Akh, apa mau dikata.
Pukul setengah 12 malam, kami akhirnya tiba di depan gerbang kosan tina.
Terjadi sedikit drama pencurian kunci diam-diam. Aku hanya berjongkok menunggu kepastian, lalu menjatuhkan badan begitu saja saat tiba di kamar kosan.
Kurasa badanku mulai hangat, melihat kondisi tina yang lebih memprihatinkan, kuputuskan untuk menukar jam kerja. Aku pagi, dia siang.
Esok harinya, kudatangi rumahmu. Dengan alasan membawa kuotamu yang sudah kubeli seminggu lalu, aku berangkat.
Tidak direncanakan, tapi untuk pertama kalinya, kita pergi ke pantai losari. Khusus untuk ritual menjemurmu agar tidak kekurangan pigmen lagi. Ahhaha
Aku senang melihatmu jauh lebih sehat.
Pemandangan disana hampir sama saja. Kalau bukan orang pacaran, ya orang berduaan. Alias sama saja. Hahaha
Beberapa datang dengan rombongan, sisanya banyak penjaja makanan dan minuman yang siap siaga membuat ilerku hampir terjun bebas.
Kita menyusuri jalan sepanjang anjungan. Baru beberapa langkah, PLUKKK. Layangan kuning menabrak tepat di kepalaku. Selain melotot, aku hanya bisa tertawa. Melihat pelakunya hanya anak kecil yang baru mengelap ingusnya. Hahaha.
Kita bercerita apa saja, tidak peduli dengan mata-mata pasangan yang risih dengan kerusuhan kita. Bodo amat. Inikan tempat umum, bebas dong konser dimana-mana.
Matahari sedang terik-teriknya, masjid 100 kubah tampak gagah di tengah laut. Kita sibuk menebak dimana gerangan jalan kesana. Inginku melihat senja, tapi dengan risiko dimarah, maka tak jadilah. Hahaha.
Tidak ada unsur kemewahan. Setelanku yang memadukan celana training, kaos panjang abu-abu dan jilbab ke-batabata-an lengkap dengan sepatu non olahraga sangat kontras dengan pakaian kebanyakan orang yang berlalulalang.
Dominasi jeans dan pakaian terbaik sebagai tanda bahwa mereka sedang niat-niatnya datang ke tempat ini.
Walaupun begitu, kita tak pernah menghiraukan hal remeh seperti itu.
Aku hanya perlu mengangkat dagu tinggi-tinggi dan melirik tajam kalau-kalau ada yang coba menatap. Haha.
Cukup lama kita berjalan, betisku mulai panas. Tanda orang jarang olahraga.
Melemaskan urat-urat yang kaku sangat melegakan. Ditambah jajanan murah meriah, Lengkap!
Kupaksa kau mengambil beberapa gambar, untuk stok DP ku. Ahhaha
Tampak cukmalats seperti aslinya.
Jujur saja, aku lebih menyukai foto yang benar-benar menggambarkan kondisi mukaku. Mau sedang sehat, atau jerawatan bodo amat.
Aku hanya merasa tidak tenang membohongi teman-temanku dengan foto yang astagfirullah menipunya. Hahahaaa
Aku tak sedang menyindir. Ini murni spekulasiku. Untuk diriku sendiri.
Kalau orang lain sih, terserahhh.
Kupacu gas motor menuju pintu keluar. Ada kesottaan yang mengiringi.
Jalan buntu jadi hadiah terakhir sebelum meninggalkan anjungan yang setelah hampir 5 tahun kita kunjungi juga.
Eh, pernah sih. Tapi itu dulu, sebelum kau tau betapa imutnya diriku 😂😂😂
Komentar
Posting Komentar