Tikaku, tujuh
Sejujurnya aku malu menulis ini, tapi biarlah. Karena kadang-kadang menjadi memalukan itu juga perlu.
Kemarin kau menelepon, katamu besok adalah hari pengesahan gelar barumu.
Aku jantungan, tapi tak separah waktu kau mengabariku seminar tutupmu.
Dengan mantap kuiyakan, karena besok jadwal kerjaku memang bukan sore sampai malam.
Dari tempat kerja aku bergegas, menyelesaikan lipatan terakhir. Lalu kabur tak karuan. Di perjalanan aku galau, beli boneka atau tidak.
Allah memang baik, kodenya datang melalui seorang bapak yang mengendarai motor tua hitamnya. Beliau menyelip di sebelah kiriku, membuat si maroon mau tak mau harus menghadap lurus.
Kupacu gasnya. Menyelipi puluhan kendaraan.
Di rumah aku merebah sebentar. Menyembuhkan remuk yang sedaritadi kurasa. Lalu mengisi perut, takut si lambung kambuh (lagi).
Setelah mandi dan juga berterimakasih pada-Nya. Aku menghitung-hitung lembar biru yang disematkan di amplop.
Kusisihkan dua lembar untuk kita.
Sisanya untuk kebutuhanku sebulan kedepan.
Aku mencarimu. Menanyakanmu kesana kemari. Menyapa beberapa teman yang kukenali.
Kau tak bisa bayangkan betapa senangnya aku mendapatimu dari jauh.
.
.
Aku mau berbagi cerita denganmu, tadinya.
Tapi saat kulihat kau bahagia dengan kawanmu yang lain, juga kawan kita. Aku tiba-tiba urung. Aku memang sedang tidak mood dari pagi tadi. Ada masalah, dan tak perlu kucerita.
Kau tampak sumringah, merencanakan hal-hal menyenangkan. Aku hanya bisa mengamati. Dan semakin mantap dengan keputusan.
Aku sempat tak mendapatimu dimana-mana. Lalu aku duduk, di pinggiran jalan. Bersama orang-orang tak kukenal. Beberpaa teman coba menyapaku, sayang aku tak sedang ingin memasang wajah ceria kala itu.
Kau akhirnya datang, menyapaku.
Lebih tepatnya mengejek. Mendapatiku duduk sendiri dengan kresekan di sebelahku. Aku tak keberatan, ini sudah hal biasa. Hanya saja aku memang sedang tak ingin banyak bercanda.
Aku mulai membangun kembali moodku. Menarik nafas, lalu membuangnya.
Baru kupasang sedikit wajah ceria, lalu menghadapmu. Sayang, kau sudah berdiri lantas pergi untuk berfoto dengan teman yang lain.
Sebenarnya aku hanya mau bilang, aku baru gajian. Dan bagaimana jika kita merayakannya. Itu saja.
Tapi sudahlah, tampaknya Tuhan belum mengizinkan.
Kau sempat mengajakku berfoto, juga yang lain nampak menatapku.
Sekarang kau tau kan, alasannya?
Ya, aku sudah terlanjur malas.
Tidak bisa kupasang senyum, apalagi tertawa. Aku hanya menatap kosong saja. Sembari berkedip beberapa saat, takut orang lain curiga, aku tengah diputus atau apalah.
Lalu kau kembali, memintaku antarkanmu pulang. Jelas nada datarku, dan kau berusaha melunakkannya. Maaf, tadi aku benar-benar tak ingin bercanda.
Sepanjang perjalanan kau bercerita. Tentu dengan nada antusiasmu seperti biasa. Jujur aku mau puasa bicara, tapi kalau ini tentang kau aku tak pernah bisa menolak.
Katamu nenekmu mengajakku singgah.
Sekarang kau boleh kembali ke tulisanku yang lama. Kau akan tau alasannya.
Sampaikan maafku untuk nenekmu, juga Abimu.
Aku benar-benar minta maaf.
Maafkan aku hari ini, seharusnya aku turut senang. Tapi entah mengapa kurasa ada yang kurang, ada yang hilang.
kulihat kau sangat bahagia hari ini.
Selamat atas pencapaianmu.
Kau selalu jadi teman terbaikku.
Aku hanya sedang tidak waras hari ini, jadi tolong dimaklumi.
Komentar
Posting Komentar