Tikaku, enam

Kau lebih beruntung. Setidaknya itu pikirku.

Bisa kulihat dari matamu, kau anggap kehidupanku beruntung. Bebas lakukan segalanya, tubuh selalu sehat.

Kadangkala kulihat raut wajahmu begitu letih. Kau sakit. Badanmu, ragamu seringkali kudapati lemah.

Yang kau tau dariku adalah si kuat yang bebas lakukan segalanya.

Maafkan aku yang begitu tertutup denganmu. Aku hanya tak mau kau dengarkan sakit versiku. Tapi jika kau bersedia membacanya, tak apalah.

Pernah sekali kurasakan hidup dengan rasa sayang dan kasih. Suasana yang hangat, ceria.
Mungkin bagi orang lain kehilangan nenek adalah hal biasa.
Memang sudah waktunya, sudah tua.

Tapi apa kau tau?
Perginya nenek dari hidupku bagai lilin yang kehilangan pijarnya.
Aku menangis, tanpa air mata.
Baru kurasa, dan ternyata jauh lebih dalam.

Tidak adalagi yang bertanya apa kabar, bukan basa-basi.
Tidak ada lagi yang bertanya apa berasmu masih cukup.
Tidak ada lagi yang mengupaskan mangga untukku, cucunya yang manja.

Kau pernah dengar pepatah ini?
Jangan bercerita tentang suatu hal dimana teman ceritamu kehilangannya.

Apa kau pernah memperhatikan?
Saat kau bercengkrama dengan nenekmu, aku berpaling. Atau menunduk. Setidaknya menghela nafas. Berat.
Maaf, bukan bermaksud tak sopan.
Aku hanya tak mau menangis tiba-tiba tanpa kau tau sebabnya.

Kau memang kalah dariku soal petualangan.
Tapi kau jelas menang atas keluarga yang kau punya.

Kau punya dua kakak, laki-laki pula.
Kuyakin mereka selalu siap jadi tamengmu kapanpun.
Ibumu yang setia menunggumu pulang.
Dan abimu yang tak henti menanyakan kabar.

Sungguh aku tak berniat membandingkan hidupku dengan hidupmu.

Aku tetap bersyukur atas segala pengalaman hidup yang kupunya.

Tapi izinkan aku membuka matamu. Agar bisa lebih bersyukur atas hidup yang kau miliki sekarang.

Kau memang sakit, tubuhmu.
Aku pun sakit, tapi jiwaku.

Aku selalu berharap kesempatan untuk bercerita apa yang terjadi siang tadi.
Apa saja yang kulakukan hari ini.

Namun kesempatan itu tak kupunya.

Yang kudapat hanya sekadar menanya kabar yang entah dari hati atau tidak.
Tadinya aku tak mau berpikir demikian, tapi biar kuceritakan.

Kerap kali aku ditelepon. Ditanya kabar, dan sebagian besarnya tuntutan.
Disaat itulah aku sadar, sepertinya aku tak punya tempat berkeluh kesah.

Aku tengah memikul berbagai kewajiban.
Kau taukan? Aku anak pertama.
Aku disekolahkan untuk pekerjaan yang diharapkan.

Kau tak akan tau rasanya hidup di tanah orang. Menumpang di rumah saudara pula.
Kelaparan bukan hal tabu. Bertahan di tengah pikiran orang desa yang menganggap uang 50 ribuan sangat banyak.
Bersedia menerima segala macam sindir dan nyinyir.

Aku hanya kadang-kadang berpikir.
Apa mereka pikir ini semua segampang itu?
Aku lelah, tubuhku lelah, apalagi jiwaku.
Aku jatuh sakit, dan aku tak tau dimana harus kuadukan.
Aku tak ingin siapa pun khawatir.
Meski tak kutau pasti, apa ada yg akan khawatir?. Selain nenekku yang kini sudah pergi.

Aku hanya ingin kau sadar
Sebenarnya tubuhku juga tak sebegitu sehat.
Kadangkala maag ku kambuh dan cukup parah.
Aku makan setelah lapar yang sedaritadi kutahan.
Tapi apa mau dikata, tampaknya makanan itu tak bersedia.
Semua keluar tanpa permisi.
Di mulut, juga di hidung.
Dan aku hanya bisa menangis, berharap nenekku datang melalui mimpi.

Kepalaku sakit, jika itu karena demam aku tak peduli.
Tapi kadang-kadang kurasa tak wajar.
Ada semacam jarum yang menusuk tiba-tiba. Dan itu menyakitkan.
Begitujuga dengan bagian tubuhku yang lain.
Sakit, tapi aku tak peduli.
Aku berusaha tak berpikir negatif. Itu saja.

Sepulang dari rumahmu yang hangat biasanya aku mengobrol dengan diri sendiri. Atau dengan Tuhan. Di atas motor dan ditemani angin.
Aku rasa itu salah, tapi entah cukup melegakan.
Aku hanya berharap.

Tuhan, benarkan ada suatu waktu aku tak perlu menangis seorang diri?
Tuhan, apakah nanti ada seseorang yang kau kirim untukku mendengar kesahku?
Tuhan, biarkan aku percaya bahwa suatu hari nanti aku merasa sedikit berharga.

Suatu waktu aku berpikir.
Untuk apa aku hidup?

Aku hanya bertualang agar aku bisa sedikit bermanfaat.

Yang menguatkanku adalah hutang yang harus kubayar.
Karena aku tak besar begitu saja.

Hei
Kau sudah paham kan.
Kau tak perlu sedih atas hidupmu.
Kau selalu istimewa, tak peduli bagaimana cara keluargamu mengistimewakanmu.

Kuharap kau mengerti.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mu

Baru

stronger