Skripstory
Hai, selamat malam!
Sekarang jam 20 lewat 32 menit dan entah berapa detik. Aku masih berbaring. Berguling. Menatap nanar lembar putih skripsiku yang masih dalam wujud mic. Word. Belum di print, mungkin besok atau lusa. Sebenarnya masih malas, agak ragu dan jujur cukup takut. Tapi karena pembimbingku sebut saja Melati terus menagih dan teman-teman yang menyemangati--dalam hal ini mengintimidasi. Terpaksa kupacu otak mungilku.
Siap tidak siap, malas atau lagi mood, pokoknya senin ini harus lanjut konsultasi. Di gedung ber-AC lantai 3 dengan wifi gratisan yang menarik puluhan mahasiswa lain yang tidak berkepentingan untuk turut nongkrong tanpa kopi di tegel putih nan dingin itu. Akh, membayangkannya saja sudah malas.
Sudah hampir 30 menit, layar netbook kubiarkan tidak berkedip. Jendela penuh mic. Word sedikit ku blok dengan aplikasi pot player dengan lagu-lagu lama Justin Bieber. Sesekali aku ikut menyanyikan liriknya. Tidak akan ada tetangga atau keluarga yang terganggu. Sebab aku tinggal sendiri, di perumahan yang jauh dari kota Makassar. Di sebelah kiri ada 4 atau 5 rumah kosong, sudah pasti berpenghuni (bukan manusia). Sebelah kanannya ada, pas di sebelah kamarku. Kali ini penghuninya manusia, laki-laki, sudah lulus S1 tahun lalu-katanya. Aku tak pernah berbasa-basi dengannya. Ia hanya akan mengajakku senyum atau bicara saat dia butuh sekop semen. Yagitulah. Di rumah tempatku tinggal ada beberapa alat pertukangan. Dan sepertinya malam ini rumahnya dibiarkan kosong, membiarkanku sendiri di jajaran rumah paling belakang. Kalau kau membuka pintu di pagi hari, matamu akan tertumbuk pada semak belukar lebat yg di bawahnya ada parit, eh kanal penampung air hujan. Cukup untuk menampung aneka hewan liar menjijikkan di rimbun semak-semak itu.
Kakiku menyentuh lantai. Dingin. Bahkan tegel pun mengingatkanku untuk segera bangkit, mengadu otak dan menarikan jemari lagi di papan hitam keyboard eksternal milikku. Mouse ku juga ikut berkedip merah. Mengisyaratkan agar aku berhenti melamun. Kipas juga ikut mendengung-dengung.
Kenapa sih kalian? Sibuk amat!
Tuh kan, sensi. 😐
***
Selamat pagi, haai..
Sudah hampir sebulan sejak kemageranku tidak bisa kuhindarkan. Sekarang masih ramadhan-tadinya aku lupa bilang (eh, tulis). Tapi, hari ini sudah ramadhan yang ke 30. Hampir dipastikan besok akan banyak pesan entah berupa SMS atau aplikasi zaman now yang berisi permintaan maaf, padahal ketemu saja belum pernah. Agamaku tidak membolehkanku berprasangka buruk. Mungkin mereka tulus untuk mengembalikan ruhnya kepada kefitrahan sebagaimana esensi hari raya. Tetapi, menurut survey olah baca gimik (entah berapa responden) hampir dipastikan 90 sekian persen hanya untuk formalitas, beberapa yang tulus, dan sisanya kepingin modus. Hahaha.
*maaf bahasanya terpengaruh ekhem bahasa penelitianku gehehe
Oh iya, bicara masalah penelitian atau skripsi atau karya ilmiah atau pengintimidasi, eh?. Sebenarnya saat ini seminar hasil penelitianku sudah selesai.
Uhuuuu.. yehaaa.... yippiieee...
Sori. Sori. Kebawa suasana.
Kalau sebagian besar mahasiswa akhir akan terpacu jantung dan hatinya jelang menikah eh jelang seminar maksudnya, 😅 maka saat itu aku pun merasakannya. Bahkan bibirku yang biasanya bisa mengeluarkan bom cerita, hari itu terasa kaku dan 'belepotan' seperti anak SD yang pertama kali maju ke depan kelas dipaksa baca puisi. Oh God!
Kupikir hari itu akan jadi hari terburuk sepanjang sejarah perkampusanku. Kamu yg baca ini mungkin bertanya. "Kenapai? Kenapa takut sekaliko?" Baca dengan dialeg makassar. Pertanyaan yang sama dengan teman-temanku yang berkerumun di depan ruang eksekusiku, ruang seminar.
Aku hanya bisa bilang, "Mallakka' (takut), ada yang salah punyaku" jawabku dengan muka polos tanpa dibumbui apa-apa. Makin mengisyaratkan kegugupan dengan bibir yang menggigil di siang bolong.
Teman-teman seperjuanganku dari zaman culun-culun bego sampai culun lagi karena tiba-tiba linglung dengan urusan surat menyurat-untunglah organisasi sempat mengajariku hal satu ini.
Mereka datang membantu angkat mengangkat delapan buah parsel yang Isinya rahasia. Aku benar tidak bisa mengungkapkan rasa lewat kata. Sejujurnya hari itu ingin sekali aku berterimakasih dengan mereka yang setia berkerumun, sebagian duduk manis di sudut ruangan menjadi audience, sebagian berdiri di mulut pintu dan balik kaca bening, beberapa berjongkok kelelahan, dan sebagian bahkan datang belakangan. Tentunya dengan raut muka kecewa, yang satu kucubiti, yang lainnya ku tabahkan hahaha. Tergantung orangnya😅
Satu lagi bahkan nge-WA, mengutarakan kekecewaannya karena tidak kuundang. Ya Allah, tidak taukah dia bahwa undangan itu hanya untuk dewan-dewan dangdut eh pengujiku?? Meski akhirnya aku ada rasa tidak enak, karena meskipun tidak dekat-dekat amat, tapi dia cukup seru diajak ngobrol nunggu dosen sampai matahari saja capek melihat kami-Sampai sore maksudnya.
Momen-momen dimana para lelakieh pejuang semester akhir menjadi penunggu lobi bersamaku yang cewek sendiri. Tapi ada yang bilang fisik aja yang cewek. Penampilan dan cara jalan iuh kayak cowok. Astaga!! Padahal akhir-akhir ini aku sudah belajar pake bedak lagi (setipis mungkin) pakai jilbab warna pink segala. Tapi mereka malah meledek.
SO WHAT?, apa yang harus saya lakukan untuk membuktikan saya ini THE REAL WOMAN. Eh esmosi. Gehehe. Peace.
ANNOUNCEMENT!!
Sebelum kalian pembacaku yang imut nan menggemaskan keburu bingung. Dengan rendah diri dan besar hati kukatakan, maaf jika alurnya kadang kebablasan menceritakan teman. Karena tulisan ini tidak dibuatkan kerangka sebagaimana penulis ulung melakukannya. Saya hanya menulis apa yang ada di kepala, laci-laci memori kadang menuntun ke hal-hal yang membahagiakan seperti teman dengan karakter beragam. Okayy??
Well, lets back to the one and only story. My love. My skripsi.
My dear skripsi kata dosen muda paling digemari di fakuktasku, fakultas komunikasi adalah skripsi yang menarik dan lumayan bagus. Iyalah lumayan. Bukan bagus, perfect atau apalah istilahnya. Ngerjainnya marathon ala atlit sprint! Hehe.
Tidak banyak yang bisa kuceritakan tentang si ekhem Skrip*i ku ini. Bukan karena tidak menarik. Justru karena saking banyak dan complicated nya, maka tidak semua bisa diceritakan. Bisa jadi novel entar! Hahaha.
Kalau kau tertarik membacanya, boleh.
Pernah, kali pertama aku bertemu dengan dosen pembimbing yang sebenarnya juga dosenku semester 1 lalu. Sudah 3 tahun, tapi ingatan akan ketegasan dan kedisiplinan beliau masih tertancap di kebun otakku. Jelas. Hari itu, kelompok yang tengah mendapat giliran persentase tidak menyelesaikan tugasnya. Dan alhasil, you know.. sampai berminggu-minggu uang spp ditambah uang pajak melayang.
Ini cukup menyeramkan.
Pertemuan konsultasi pertama sampai ACC berjalan super duper aloooddd..
Komentar
Posting Komentar