Bulukumba in love

Aku memang lemah.
Tanganku selalu gatal mengetik setiap ada hal yang nyangkut dihati. Kurasa, aku harus sedikit tahu diri. Menulis tidak hanya dukanya saja, tapi suka pun harus antusias.

Selepas liburan singkat kemarin otakku benar-benar ter-refresh dengan baik.
Kesegaran di lobus-lobus otak membangkitkan aura baru, juga semangat baru disaat semua sudah nampak monokrom.

Perjalanan panjang menyusuri hutan, sawah, kota, juga pantai benar-benar menyejukkan mata.
Kuhirup dalam-dalam aroma pantai, pandanganku lekat-lekat ke arah desiran ombak. Sungguh ketenangan dunia yang hakiki.

Sayang sekali, aku hanya bisa memandangnya dari jok belakang motor matic teman. Padahal jika bisa, ingin kududuk di tepi pantai, membiarkan ujung kaki disapu ombak tenang. Menunggu senja datang.

Tapi apa mau dikata, jika saja si kecil kriwil, sudah pasti dia mau diajak. Aku hanya merasa tidak berhak mengganggu ketenangannya di rumah. Toh, tetap saja. Saat tahu aku sempat ke kampung halamannya diam-diam, dia mojjo juga. Hahaha.

Kuhabiskan hari-hari pelarianku dari desakan pekerjaan dengan bermain sepuasnya, bersama aunur si kecil manis. anak dari teman yang rela hati kuganggui hari liburnya. Tina.

Aunur memang anak perempuan, rambutnya mulai panjang. Tapi dia tidak bisa dikategorikan anak perempuan normal sepantarannya. Nunul, akrabnya lebih aktif dan agresif. Hahaha.

Sangat menyenangkan bermain dengannya. Berkali-kali dia mengambil gaya dada didepanku. Bukan di kolam renang, tapi di kerikil halaman rumahnya. Lututnya sampai lecet dan memerah. Hehe. Itu karena aku tak pandai mengasuh anak dengan gaya emak-emak. Jauh lebih seru menjadikannya teman main tanpa marah berlebihan, haha. Alasan.

Jidatnya bahkan sedikit benjol karena terantuk kusen pintu. Jatuh terpelesetnya bahkan sudah tidak bisa kuhitung lagi, padahal disana aku hanya tiga hari. Hahaha.
Sering kutatap lekat-lekat matanya, kasihan sekali anak sekecil ini ditinggal ayahnya.
Ia tidak berdosa, ini murni kesalahan orang tuanya. Toh, impasnya tetap merebak kepadanya.

Kerap aku berdoa dalam diam, semoga ayahnya bisa terketuk hatinya.
Gadis kecil ini pasti butuh pelindung, butuh pengayom.
Aku sedih, melihatnya tidak mengenal ayahnya sendiri. Bahkan sedikit memberontak saat dibahas. Padahal, tak pernah diajar demikian.
Kurasa ini naluri alami anak yang ditinggal pergi.
Aku, kita, harus bersyukur dengan apa yang dimiliki.

.
.
.

Pulang dari rumah tina dan berpisah dengan Nunul. Lengkap dengan jerit tangis.
Kami menyempatkan diri mengunjungi posko KKN setahun lalu. Kuraba setiap jengkal memori, akh semua masih sama.
Ibu desa yang baru turun dari angkot kami serang dengan salim dan peluk rindu.
Lebih-lebih Ibu posko yang menyambut di balik daun pintu. Orang yang sangat baik untuk anak nakal sepertiku. Terharuuu. Hehew.

Akhirnya rindu yang membendung setahun lepas juga. Kulihat Ade, bungsu dari 3 bersaudara anak Ibu desa sudah makin tinggi. Bahkan melebihiku.
Suaranya juga mulai pecah, astagaa padahal tahun lalu dia masih tak masalah jika merengek padaku.
Bercerita segala hal yang membuatku ketawa guling-guling.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mu

Baru

stronger