Untuk Ridwan, Temanku yang selalu membuatku merasa gagal
Ridwan.
Parasmu kuyakin bukan berasal dari Indonesia tulen. Apalagi Makassar.
Meski kau selalu meyakinkan kami bahwa kau adalah orang Makassar asli.
Nyatanya kami tak percaya begitu saja.
Kulitmu kemerahan, dengan bintik-bintik yang biasa orang sebut freakless memenuhi wajahmu.
Hidungmu juga tidak terlalu mancung seperti bule. Tapi sudah cukup membuat kami yang perempuan tulen kerap merasa gagal disampingmu.
Daripada gagah, kau cenderung cantik.
Kebanyakan orang yang melihatmu pasti berkata demikian. Aku sudah terbiasa.
Ridwan.
Dulunya kau bergabung di salah satu geng yang sok menguasai kelas. Hahaha.
Mungkin tak resmi. Tapi kau lebih banyak menghabiskan waktu bersama mereka.
Aku mendapat info, kau menyukai salah satunya. Hayoloooohh.
Tapi takdir berkata lain.
Cukup tragis, dia lebih memilih sahabatmu yang badannya lebih atletis.
Suatu hari di lobby fakultas kau menanyaiku. Tentang seseorang dari kelas sebelah yang kau taksir belakangan.
Sejujurnya waktu itu aku cukup kaget.
Bagaimana tidak?
Wajahmu yang bak ustad ternyata masih normal sebagai laki-laki biasa. Hahaha.
Matamu nampak berbinar waktu aku mengatakan bahwa orang yang kau maksud adalah kenalanku.
Tiba-tiba saja kita chat-an. Seolah akrab.
Aku memberimu nomor kontak teman yang kau maksud. Tentu dengan izinnya terlebih dahulu.
Untungnya dia orang yang welcome. Kalau aku sih, sudah terdepaklah kalian wahai laki-laki yang katanya naksir. Hahaha.
Kasian sekali kau rid..
Nampaknya kau kembali bertepuk sebelah tangan.
Karena yang kutau, dia hanya berniat menjadikanmu sebatas teman.
Ya! dia sudah punya tambatan lain.
Tidak banyak kisah tentangmu yang kuingat di awal kuliah.
Mungkin karena kau banyak bergabung dengan mereka yang tak cocok denganku. Makanya kuanggap kau bagian dari mereka yang tak perlu terlalu kukenali.
Memasuki semerter tua kita mulai dihadapkan dengan banyak tugas lapangan.
Pernah sekali kita di kelompok yang sama.
Tepatnya kupaksa kau masuk dikelompokku yang awalnya tiga orang.
Kau tidak mengeluh sama sekali.
Aku, Tika dan Mamaa sempat melirik Arman. Tapi kulihat dia dan dua temannya yang lain sibuk mengatur rencana.
Kami mengalah, dan mempersilahkan siapa saja yang mau menggenapkan anggota kelompok kami.
Kami masih berharap Arman yang tidak gagah berani itu mengacung jari.
Sayang, "istrinya" sudah memborgolnya. Hahaha.
Jadilah restu yang jadi sukarelawan.
Waktu sudah ditetapkan.
Aku bersamamu, Tika dengan Restu.
Kita membawa surat dari kampus untuk salah satu partai di Makassar.
Berbekal Maps kita dengan Pedenya mencari.
Ada dua alamat.
Kita berempat sepakat meragukan alamat satunya. Nampak di gambar maps sangat tidak kondusif untuk lingkungan perkantoran.
Kita sepakat menuju kantor yang jaraknya lebih jauh.
Mendapati Pertigaan raksasa kota Makassar kau membelokkan motormu ke arah kiri.
Aku menepuk pundakmu.
"Kenapa kita ke kiri?"
"Kesana maki dulu, siapa tau disituji", kau menjawab dengan santainya.
"We, Marah nanti Restu", kataku takut-takut. Aku tau restu adalah tukang emosian. Kalau saja Arman, aku tidak begitu memedulikan.
"Ah, tidakji itu" katamu super tenang. Seperti lupa bahwa kita telah bersepakat.
Aku tak melawan lagi. Punggungku kurasa membungkuk sendiri.
Kuhela nafas dalam-dalam. Semoga keberuntungan berpihak pada kita hari ini.
Mendekati titik yang ditunjuk Maps. Keraguan makin menjadi.
Bagaimana tidak? Bukannya kawasan ruko atau perkantoran. Yang kita temukan adalah kawasan cukup kumuh dengan kanal yang membelah sisi kanan kiri. Aku mendengus. Tuh kaan!!!
Dugaanku atas kemarahan restu akhirnya terbukti. Di seberang telepon, dia bersumpah serapah. Katanya yang dia temukan memang kantor PKS. Tapi bukan Partai Keadilan Sejahtera. Melainkan Persatuan Keluarga Sidrap (kayaknya salah, yang jelas ada Sidrapnya)
Sampai disana, aku berinisiatif membeli beberapa gelas air mineral.
Wajah restu yang biasa kinclong sudah kusut bekas amukannya.
Aku hanya diam. Kami memang salah.
Lalu tawa merebak kala Tika dan Restu menceritakan kronologi saat menemukan Kantor PKS salah kaprah itu. Hahaha.
Hari yang melelahkan. Aku yang barusaja tiba kehilangan urat malu. Bertanya kesana kemari dan akhirnya menemukan petunjuk.
Kita berkeliling sebentar dan kutunjuk sebuah bangunan ruko tua dengan spanduk memanjang yang sudah sobek disana-sini.
Kita sempat ragu. Tapi akhirnya lega saat mendapat pembenaran bahwa ruko tersebut memang kantor partai yang dimaksud.
Ada sedikit kekecewaan mengingat orang kantornya sudah bubar.
Tapi setidaknya kita sudah ada harapan. Surat diterima dengan baik oleh petugas yang tampaknya keamanan.
Setelah kejadian itu kita semua kembali sibuk.
Tidak banyak yang kita lalui bersama.
Namun waktu mempertemukan kita kembali. Berlima.
Kala itu, di kamar kos mamaa kita sama-sama mengerjakan tugas desain.
Berkali-kali kalian menanyaiku caranya. Padahal aku sendiri baru saja belajar melalui youtube.
Kita tertawa bersama. Membicarakan apa saja.
Menyantap cemilan yang mamaa bawa dari kampung halaman.
"Enak kalau kerja tugas sama kalian di? Kalau sama yang lain, tidak ada jadi. Makan jaki saja", katamu disela-sela tawa kita.
"Iyalah...", kami dengan congkak menjawab. Hahaha.
Kita diam beberapa saat.
Terpaku pada layar laptop masing-masing.
Tidak ada angin, tidak ada hujan.
Tiba-tiba kau berkata yang membuat kami otomatis melihatmu dengan tatapan melotot.
"Terlambat Persahabatanta di?" Katamu.
Semua mata tertuju padamu. Tapi bibir masih tak bergerak sedikitpun.
"Coba dari dulu", sambungmu.
Suasana jadi sedikit melow.
Aku dalam diam sejujurnya juga merasa demikian.
Diakhir-akhir masa kuliah, Tuhan baru mempertemukan kita.
Meski sekarang intensitasnya sudah jauh berkurang.
Mamaa di kalimantan, aku mulai bekerja apa saja, Tika sibuk mengurusi wisudanya, dan Arman entah kemana.
Ingin sekali kuadukan padamu, tapi disisi lain aku kadang merasa bahwa aku tak pantas menghalangi kehendaknya.
Ridwan.. Ridwan..
Kau selalu terlambat.
Kau kerap membuatku kesal.
Dan yang paling sering adalah membuatku seperti perempuan buluk yang bersebelahan dengan Laki-laki cantik.
Tapi kau tak pernah bisa kumarahi.
Sebesar apapun salahmu.
Jika kau sudah di depan mata dengan mukamu yang di set ke ekspresi tak bersalah, hancurlah kalimat amukan yang sudah kususun sebelum kau datang.
Biasanya aku hanya menghela nafas, lalu menegurmu agar tidak mengulang kesalahan yang sama.
Komentar
Posting Komentar