Tikaku, empat belas
Entah akan berjudul apa tulisanku kali ini.
Aku baru merebahkan badan setelah perjalanan 3 jam.
Berkendara tanpa pembonceng dan boncengan.
Membelah hutan lebat, hanya ada beberapa monyet yang sudah terlalu biasa kudapati di pagi hari tiap pulang dan pergi dari rumah (di Kampung).
Aku kembali ke perantauan. Seperti biasa, aku akan merasa sangat berat.
Masih ingin kunikmati masakan kakek dan mamaku, menggulingkan badan seenaknya di kasur depan TV adikku sambil merecoki pemiliknya.
Menikmati minuman dingin lengkap dengan bapak, mama, adik, kakek, juga nenek dari pihak bapak.
Kalau masih diizinkan berandai, aku hanya ingin ada nenek dari pihak mama yang juga duduk bersama kami.
Aku melirik sebentar ke arah foto bersama terakhir kami di idhul adha 2016 lalu, menunduk, lalu menghela nafas.
Semakin sering aku pulang ke rumah, rinduku padanya semakin menjadi.
Belum kudapat orang yang menyayangi lebih dari caranya memperlakukanku. Cucunya yang nakal.
Sedang kudidik diriku untuk lebih pandai memorsikan waktu.
Sesalku pada nenek kurasa cukup menjadi pelajaran paling menyakitkan.
Aku tak pernah peduli berapa malam yang ia lewati dengan rindunya padaku.
Tidak pernah kucoba mengerti saat dirinya mengutarakan risau dari kejauhan.
Aku betul-betul menyesal.
Kadang-kadang, kurasa ia sedang membisikiku.
Nak, kau jangan menangis. Meski kau tidak lagi bisa cicipi masakanku, tapi aku tetap bisa melihatmu.
Jangan hidupmu berhenti karena pergiku.
Lalu aku mulai tenang.
Mencoba menciptakan suasana hati yang lebih baik.
.
.
"Kau tak seperti yang dulu"
Potongan chat dari mamaa sedikit memelintirku.
Mataku memang tengah bengkak bekas amukan.
Ini ceritaku beberapa hari lalu, saat kucoba pertahankan apa yang kupikir benar.
Sekarang aku nampak sangat menyedihkan.
Wajahku yang pas-pasan sekarang berubah jadi hancur.
Sembab disana-sini.
Jika memukul di luar matras tidak berdosa, mungkin tinju atau kakiku sudah merontokkan satu gigi orang didepanku kala itu.
Tika, kau tau kan?
Aku benci melihat orang yang kuanggap teman tak dihargai?
Kurasakan mataku memerah, pipiku juga terasa panas. Tinjuku mulai mengepal-ngepal.
Aku benar sedang marah.
Kalau saja kau tak lebih tua, kubanting sudah meja, biarlah hidungnya patah atau kepalanya terbentur.
Emosiku memuncak.
Benarkah ada orang dengan pikiran semenjijikkan ini, Tuhan?
Dari sana aku belajar, bahwa tidak banyak orang yang bisa dipercaya.
"Hati-hatiko sama temanmu yang muka dua"
Pleeekk
Aku merasa tertampar, sepertinya kau benar.
Mulai sekarang kepercayaanku semakin mahal.
Mereka boleh berakting peduli di depanku, tapi kau tak bisa bohongi detektif.
Sudah lama aku bisa membaca gerakan mata yang tidak tenang.
Haruskah aku kembali menjadi diam?
Pertanyaan besar lalu muncul ke benak otak.
Lalu kuingat ciutan si akram yang pernah bilang,
"Janganki berubah, begini terus meki"
Nah, loh.
Aku nyaman bercanda seenak jidat.
Tapi kelak baru kusadari, ternyata ada juga tipe manusia yang hanya mencari sensasi. Tujuannya hanya mau diperhatikan. Mau dijadikan teman.
Ya ampun.. bisakah mereka sadar..
Bahwa semakin kau berusaha membahagiakan semua orang, maka kau akan semakin banyak merasa kecewa.
Teman, memang tidak semua manusia jahat. Tapi perlu diingat, sebagian besar hanya punya kepentingan.
Jika tak ingin belajar mencintai diri, kau hanya akan merasa sakit yang lebih dan lebih.
Kau boleh menertawaiku karena prinsipku yang sombong tak mau membagi wajah pelucuku untuk semua orang.
Tapi izinkan aku menertawaimu karena pilihanmu menceracaukan aibmu kesemua orang demi secuil perhatian sesaat.
Aku sedih, aku malu sebagai perempuan.
Tapi tampaknya dia tidak merasa begitu.
Wajahnya bahkan menampakkan sedikit kebanggaan yang tidak pernah bisa kumengerti.
Aduh, Tika.. sory nah
Aku malah memaki di tulisan yang kubuat untukmu. Hehe.
Sekarang aku mulai berpikir.
Bagaimana jika tulisan yang selama ini kubuat akan jadi hadiah ulang tahunmu nanti? Romantis bukan? Hehe. Ngaku lo!! Hahahaa
Tadinya ingin kutulis ini untuk diriku sendiri, sejujurnya sudah kubagi beberapa di blog punyaku.
Tapi aku lalu berpikir, tulisan ini jika dilihat dari sisi mana pun, tentu orang akan menyangka ini memang untukmu. Hahaha.
Aku hanya sedikit bersalah karena mengunci aplikasi blog yang selalu ingin kau recoki.
Bukannya pelit, aku hanya menyimpan kesombongan ini di waktu yang tempat.
Jangan marah aku sombong..
Karena kau juga yang mengajarnya HAHAHA
Belum bisa kupastikan sebanyak apa curhatan ini kubuat.
Sejujurnya aku tidak akan pernah siap saat kau mulai membacanya.
Karena saat kau membaca, saat itu juga kau akan tau betapa sesungguhnya aku benar-benar tidak setangguh itu.
Komentar
Posting Komentar