2nd

Tenda naungan kami dari pagi kemarin mulai teduh. Pendar matahari perlahan meredup. Tanda gelap akan tiba.
Dua orang teman yang masih mahasiswa baru membunuh bosan dengan bernyanyi diiringi musik dari aplikasi yang mereka punya.
Sekali-kali terdengar serasi. Tapi tak jarang melengking atau kerendahan tak jelas.

Lagu Shawn Mendes, Bruno Mars, Charlie Puth dan banyak lagi bergantian memamerkan suara.
Jujur kami terhibur.
Meski di seberang tikar, teman laki-laki sedang membicarakan hal tidak tentu arah. Kurasa untuk menghibur diri.
Kuyakin mereka sama lelahnya denganku yang dua hari ini hanya memandangi patok tenda, TNI, dan korban yang baru meninggalkan tanah tambang rezekinya, sepintas tampak senang. Tapi, jika dilihat lagi, amat jelas kerut sedih dari sisa ketakutan dan panik di hari silam.

Semua bercengkrama, saling hibur. Begitupun aku yang sedang menghibur diri dengan mengadu jempol dengan layar hp ku. Mengaburkan sendiri yang kurasa.
Beberapa nampak memerhatikan. Dari mata seolah mereka bertanya, apa yang terjadi? Mengapa kau tampak lebih murung?

Aku baru menerima telepon. Seseorang yang menitipkan khawatirnya untuk kubawa ke tanah orang.

Murung yang kurasa semakin menjadi. Bayangan mengenai penderitaan saudara disana makin melintir. Ingin aku menangis, tapi malu. Hehe.

Kau tahu? Aku tidak suka buang waktu.
Aku merasa bodoh hanya makan dan tidur disini. Sementara teman-teman yang lain sudah beraksi kesana kemari.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mu

Baru

stronger