Postingan

Baka

Sudah 2019. Sebentar lagi umurnya 15 tahun. Astaga, aku bukannya lupa. Hanya saja, kadang-kadang waktu terasa terlalu cepat. Masih kuingat, kala dia dengan pongahnya menghancurkan hiasan di meja ruang tamu. Atau merengek karena kuganggui (satu ini masih berlaku) Kuingat selembar foto yang diambil saat seorang keluarga menikah. Aku berlutut, lalu kurangkul dia yang terlihat sangat kerdil. Bahkan di posisiku yang sudah berlutut, dia masih terlihat sangat pendek. Ada sedikit rasa bersalah, semenjak jadi mahasiswa, aku kadang-kadang "lupa pulang" dalam waktu berbulan-bulan. Aku lalu menyesal. Kehilangan waktu yang segitu banyak dengan keluarga. Aku dengan teganya melupakan bahwa ada yang rindu di ujung telpon sana. Sampai aku jatuh dalam rasa sesal, setelah liburanku yang Ia tunggu untuk waktunya "Pulang".

Untuk Mamaa, yang kisahnya tak banyak kutulis

Aku tidak menulis banyak untukmu. Padahal kau punya buanyak jasa untukku. Mulai dari masa cabe sampai kau memutuskan untuk hijrah, dengan teman-teman ukhtimu yang aku tak bisa berbaur. Kecuali tanteku, Uchi. Hehe Aku ingat betul, dulu kau tinggal di asrama. Lantai 3. Sebelah kiri ada toilet umum yang tak seorang pun berani masuk sendirian. Kau tinggal bersama seorang teman dari fakultas sebelah, dia pendiam. Dan itu menguntungkan. Hahaha. Aku bisa semena-mena menguasai kamar asramamu, karena dia juga jarang pulang. Jika ada jeda kuliah, biasanya kita dengan mudahnya berjalan kaki menuju asrama. Singgah di kantin lantai satu, lalu membeli beberapa lauk. Tahu dan tempe bumbu adalah favoritku sepanjang masa. Aku tak pernah tergiur membeli ikan yang matanya melotot dan mau keluar. Ih jijik. Kita menaiki tangga asrama tanpa alas kaki, karena memang dilarang. Hehe. Kau membuka pintu, dan aku seenak kacang menghancurkan seprei dan bantal yang tadinya rapi bak disetrika. Aku merasa, b...

Tikaku, Sembilan

Heiii. Sudah cukup lama kita tak bertemu (Langsung). Lewat tulisan sih tidak. Hahaha. Aku mau membagi cerita malam ini. Barusan, aku menyelesaikan bacaan baru. Judulnya Mimpi sejuta dolar. Ditulis Alberthiene Endah, seorang jurnalis. Tapi isinya semacam autobiografi Merry Riana, seorang miliarder yang berawal dari mahasiswa kurang gizi, sepertiku. Aku tau, kau tak akan tertarik membacanya. Tapi entah mengapa aku tengah bersemangat menceritakannya untukmu. Karena biasanya kau suka itu. Total 362 halaman isinya. Cukup padat dengan font khas skripsi. Times New Rowman 12 pt. Aku mengenalinya dengan baik. Hehe. Aku agak malu mengakui, tapi aku sempat meneteskan air mata. Saat kubaca perjuangannya berjalan kaki dan menahan lapar. Sungguh, akupun mengalaminya. Dia mengaku berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja. Tetapi, untuk ukuranku dia masih jauh lebih beruntung dariku. Ayahnya Insinyur teknik. Meski akhirnya memutuskan untuk menjadi pengusaha dengan bisnis kecil-kecilan. Bisa j...

Tikaku delapan

Leganya aku hari ini. Akhirnya dosaku padamu hari itu bisa kubayar sedikit hari ini. Jujur, aku sangat merasa bersalah padamu. Tapi apa daya, terkadang aku memang begitu. Dan terimakasih karena masih selalu bersedia menerimaku kembali. Seperti tidak terjadi apa-apa. Membuatku merasa jadi teman paling bahagia . Kau pasti mengataiku alay, aku tak peduli. Bwek. . . . Aku masih bermalas-malas pagi ini. Lelahku semalam membuat tubuhku minta waktu rehat ekstra. Kuraba sekitarku. Maklum, kamar tempatku gelap. Juga pengap. Kau tau itu. Kita tak akan bisa temukan apapun tanpa bantuan lampu. Lama kuraba sekitar, akhirnya kudapati si putih bercasing naruto. Betapa kagetnya aku mendapati pukul 09.30 dengan gagah berani terpampang nyata di layarnya. Aku menguatkan diri menuju dapur. Perutku sudah terlalu keroncongan. Betapa sedihnya aku mendapati air di galon sudah wassalam, yang artinya aku harus membuka pintu.. Memanaskan motor, membuka pagar, lalu pergi membeli segalon air. Se...

Untuk Arman, yang tiba-tiba berubah (lagi)

To arman Heh, apa maksudmu abaikan chatku hari itu?. Apa iya kau mau menghindar (Lagi)? Perkenalan kita cukup lucu, pikirku. Bagaimana tidak, caramu berkenalan sungguh out of the box. Beda dari ratusan orang yang pernah kukenal. Jika Res to the point meminta kontak Whatsapp kala itu. Kau malah mengajakku beradu debat masalah buku, buku poligami tepatnya. Ya! Poligami. Aku ingat betul. "Nah, ini buku bagus!" Kau menunjuk-nunjuk sambil berkata dengan gas dipacu. Aku lantas menoleh dan otomatis melotot. Bagaimana tidak? Kau berdiri pas di sampingku. "Ih, jellekki itu! Ganti!" Sanggahku. Padahal aku tidak tau kau, dan sebenarnya tak mau tau. Tapi kau cukup lihai menarik fokusku dari buku haji yang sekarang kutentengi. "Baguski ini, bagus" katamu. Berulang-ulang. Sambil memasang senyum paling mengejek yang pernah ada. Berulang-ulang pula kukatakan jangan, jelek, ganti. Tapi kau malah lebih bersemangat mencari buku lain dengan judul serupa. Aku mulai j...

Tikaku empat

Aku menulis ini untuk jaga-jaga. Untukmu, dan keluargamu yang kusayang. Hei! Sekarang kau sudah tahu bukan? Bahwa sekarang aku tak lebih dari anak cengeng yang kesepian. Kalau belum, sini kuberitahu. Karena tulisan kemarin memang bukan untukmu, tapi untuk orang yang sudah pergi. Maaf yah, jika akhir-akhir ini aku kurang menyenangkan. Mataku bisa tiba-tiba bengkak, menghitam dikantungnya. Aku tak yakin jika kau tak curiga. Kau hanya terlalu "sudahlah" untuk itu. Aku tau. Mungkin juga kau tidak menyadarinya, karena yang kau tau sepekan ini aku memang sibuk. Ya! Mungkin ini lebih tepat. Sebab kau adalah makhluk Tuhan paling toleran yang pernah kukenal. Sampai masalah hati pun iya juga. Hari ini kau bercerita. Kau bermimpi, dengan orang yang pernah dua kali kutemui. Meski samar, sangat samar. Jujur aku tak suka. Kau tau kan? Aku tak suka kau tersiksa. Tapi disatu sisi aku juga paham. Bahwa masalah hati memang tak mudah dipecahkan. Aku pun mengalami, meski maaf ...

Untuk dia yang menghilang

Aku rindu. Memang tengah merindu. Setelah pergimu, aku baru sadar. Bahwa kuatku memang karenamu. Engkau tega, meninggalkanku tanpa ada harapan untuk kembali. Dan aku hanya bisa menangis. Kau tau? Sekarang aku tak lagi jadi perempuan setangguh dulu. Kini aku tak lebih dari seekor burung yang kehilangan sebelah sayapnya. Atau banteng tanpa tanduknya. Badanku sekarang tak sekebal dulu. Aku bingung, badanku merapuh. Terkadang semuanya terasa menyakitkan. Salahnya aku ketika mencoba cari peduli. Dan semua nampak lebih hambar dan gelap. Maafkan aku. Sekarang aku lebih sering buang-buang air mata. Bukan karena menonton sesuatu. Aku menangis lebih karena sadar bahwa aku tak punya tempat mengadu. Padahal aku sendiri manusia biasa. Aku capek, juga lelah. Dahiku terasa panas, juga tanganku. Kakiku kadang-kadang dingin. Kepalaku sering tak terkendali. Apalagi perut yang sekarang sudah menembus punggung. Bernafas pun kadang terasa sakit. Saat aku kecil, akupun sering merasakan ...