Postingan

A wish

Sekarang aku 22 tahun, hampir 23. Banyak ujian yang kulalui. Ada yang kecil, juga besar. Tidak mudah, bahkan nyaris menyerah. Jika tak ingat Tuhan, andai tak ada sanak keluarga dan teman. Hal bodoh mungkin telah kulakukan. Sering aku dicap tak normal. Saking seringnya, itu jadi agak biasa ditelinga. Bahkan beberapa mengira aku takkan normal dalam waktu dekat. Haha, aku senyum. Tapi jujur sedikit takut. Memang, masa pubertas kulalui tak semengesankan kawan lain. Boleh jadi akulah satu-satunya si hambar pada masa itu. Sibukku hanya tertuju pada pertanyaan, akan jadi apa aku? Bisakah aku seperti harapan orang terdekatku? Hidup kuhabiskan dengan memikirkan orang lain. Yang kusayang, tentu. Kerap kudengar pengalaman hebat dari sisi tergelap kawanku. Satu sisi aku kagum, bagaimana mereka seberani itu. Dalam hati kudoakan, semoga jalan baik segera ditemukannya. Namun, disisi lain aku bersyukur. Untung aku tak memilih pintu yang sama. Jika iya, belum tentu aku bisa survive denga...

Tak habis

Maaf teman, kutau maksudmu baik sekali. Namun bagi mahluk sepertiku, hal demikian belum mampu kucernai. Sore tadi mendung, agak gerimis. Kucoba tidak pedulikan apa yang kau lakukan. Kutarik nafas dalam berulang, kaki kulangkahkan menjauh. Kemana saja, asal tak masuk frame video call mu. Daripada malu, aku lebih pada risih. Ketenanganku rasanya diganggu, bahkan terancam. Ya, aku agak pelik masalah ini. Kucoba mengakali, tapi akhirnya aku kalah lagi. Kunci, hp dan dompet kukantongi. Tak butuh waktu lama, langkahku panjang membelakangi. Samar kudengar teman memanggil-manggil. Kubalik badan sedikit, lalu pergi. Tidak kulirik kedua kali. Aku kesal sekali tadi. Padahal jika dipikir ini tak begitu pantas dikesali. Akh, kekanak-kanakan sekali aku ini. Dalam perjalanan, pikiranku tak habis habis. Kusesali, tapi masih tak ada niat kembali. Aku hanya tak suka dibuat risih. Maaf untuk kau yang bahkan tak tau apa-apa. Karenaku, tukar candamu jadi berakhir. Jika ini membuatmu berpikir...

Beku

Aku tengah bergelut dengan pikiranku sendiri. Aku tak mau membohongi diriku, apalagi menyakiti dirimu. Masih kucerna semua ini. Meski sebenarnya telah berlangsung lama. Bagiku, ini terlalu pelik. Aku diam bukan berarti tidak, begitupun mengiyakan. Benakku masih bertanya-tanya. Apakah kau jawaban atas doaku? Atau justru ujian keimananku? Aku tak akan membandingkanmu dengan siapapun. Kau tau? Belum pernah aku dihadapkan dengan situasi yang membuatku kalut, kecualimu. Sedang kutanya apa mau hati. Bersediakah iya mencair, atau masih ingin berkeras seperti hari ini. Jujur saja, ingin sekali aku bertanya, Kenapa aku?. Sebab kutau, kau pasti punya opsi lebih dariku. Bahkan jauh. Sayang, sampai hari ini aku masih terlalu takut. Juga ragu. Teman bertanya. Apalagi yang kau tunggu? Apa kurangnya dimatamu? Aku diam, jelas. Bertahanmu sejauh ini cukup menjadi alasan kau sedang tak main-main. Terlebih sikapku yang naudzubillahiminzalik. Maafkan aku membuatmu menunggu. Maafkan semua ketid...

Mu

Sekitar 2015 lalu, aku bertemu kenalan baru. Tidak akrab, hanya tau nama. Saat aku dan teman tertawa, ia ikut senyum. Tipis sekali tapi, aku kadang-kadang melihatnya dari ujung lihatku. Sejauh yang kuingat, kerap ia memakai kaos putih. Jujur, aku tak begitu peduli. kau tau bukan? Aku dijuluki si dingin hati. Hampir di setiap akhir pekan kami bersua, tidak ada pembicaraan. Aku bahkan tak ingat sama sekali obrolan kami, yang kutau pasti, tak ada yang menarik. Posturnya cukup tinggi, entah berapa senti dariku. Sepertinya tak terlalu jauh. Sekali mataku tertumbuk, aku langsung tertunduk. Haha, sekilas kulihat matanya yang jauh besar dari mata minimalis milikku. Setahun berlalu, tidak ada yang spesial. Sama sekali. Lalu tiba hari, kudengar ia akan merampungkan pendidikannya. Saat kakak sepupu menceritakan dengan hebohnya, aku iya iya saja. Takut disangka tak sopan hahaha. Padahal dikepalaku saat itu hanya "apa hubungannya denganku?" Wkwkwk aku sebodoamat itu hahaha. Entah ...

Tidaktau

Suatu hari dimana aku kehilangan asa. Di depan cermin, aku menatap nanar. Pemilik titipan raut muka datar, tipis senyum. Menjadi sebuah kebiasaan, sehabis ditelepon, saling tatap diri dimulai. Satu persatu kata yang dilontarkan via ujung telepon kembali membayang. Tidak frontal, tapi jelas sekali maknanya. Bibirku mulai bergetar, badan lemas, hati yang keram, mata mulai terasa panas. Dalam hati, kuberteriak. Keras. Iya, aku tahu aku jelek!!!. Air mata tak tertahan, menderas seiring teriakan dalam hati. IYA, aku tahu aku tidak punya apa-apa.. IYA, aku tahu pekerjaanku tak pantas dibanggakan. Aku gagal. IYA, aku tahu benar! Tanpa perlu diingatkan, aku sudah tahu. Tahu sekali. Sangat, sungguh sangat tahu. Selain Tuhan, aku tak punya siapapun untuk mendengar nanarku. Aku selalu berteguh untuk tidak bercerita dengan manusia, sekalipun teman. Sebab kutahu, masalah ini tak ada apa-apanya dibanding ujian orang lain. Aku hanya si pengeluh. Setiap hari kucoba menata hati. Pagi y...

Terbaik tuk pelupa

Tuhan, maaf aku pelupa. Lupa jika Teman-temanku banyak Lupa jika Keluargaku sayang Lupa bahwa nikmat-Mu tidak terkira. Maaf, Tuhan. Kadang aku membenci diriku, yang juga ciptaan-Mu. Aku bingung, dengan aku yang lain. Tiap hari kuberdoa, kadang sepenuh atau setengah hati. "Allah, tunjukkan yang tebaik" "Ya Allah, masalahku besar, tapi kuyakin Engkau Mahabesar. Maka lapangkanlah dadaku, beri sabar yang tak berujung." Sering kumerasa jatuh, menyerah, tidak punya semangat hidup. Apa yang orang sebut hati, bagiku seperti tidak berasa. Hampa. Hambar. Ya Tuhan, doaku masih sama seperti ribuan doa yang lalu. Tuntunlah aku, kuatkan batinku, juga ragaku yang kadang rapuh. Kutunggu terbaikMu.

Its ok

It's okay :') Saat memilih jadi tertutup, saat itulah aku harus siap memutar otak mengcover semua pedih. Malam ini, ibu (mama) bercerita via hp. Tentang rindu, juga pekerjaan (untukku) yang diharapkannya. Kukira aku telah berusaha, aku hanya merasa tak perlu bercerita masalah yang bisajadi menyedihkan atau memalukan. Kata perkatanya kudengar. Nadanya halus, aku datar. Lebih banyak diam. Hanya air mata yang menyeberang dagu, lalu ke lantai. Untung saja teman kosanku sedang keluar. 12 menit lamanya, kutahan sesenggukanku dengan tarikan nafas panjang. Kulap ingus dengan kain jilbab yang barusaja kulepas. Air mata kubiarkan berjatuhan. Tuhan, apa iya hidupku memang ditakdirkan seperti ini? Jika iya terimakasih. Engkau telah memilihku jadi hamba yang Engkau percaya untuk melalui ini. Aku mohon sabar, sabar, sabar, dariMu. Jelas sekali arti kata ibu. Aku merasa gagal akan semua usahaku selama ini. Semua jerih payah, letih, sakit, aku kalah. Tuhan, tidak bisakah aku ...