Postingan

More than everything ❤

Andai melupakan semudah itu. Orang yang menyayangiku, selalu menanyaiku, menungguku. Tetiba pergi, tanpa firasat, tanpa pertanda. Aku rapuh, jatuh, sembari mencoba tetap tegar di tengah keluarga yang berkabut duka. Sempat tak percaya. Cukup trauma dengan suara alat medis, sirine ambulance, bahkan sekedar kalimat innalillahi wa'inna ilaihi rajiun. Telinga serasa memekak, hati luruh, kemudian rindu memanggil kembali. Bukan perkara mudah menjalani hari-hari dengan beban penyesalan didada. Menyesal karena teleponnya sering kuabaikan. Menyesal selalu mengacuhkan rindunya. Aku menyesal, sangat sangat menyesal. Tahun demi tahun berlalu.. Kucoba menata hidup kembali, tanpamu. Seperti yang kuduga. Berat, dan jauh berbeda. Andai Tuhan mengijinkan pertemuan hari ini. Akan kuhadiahi engkau dengan apapun yang engakau mau. Apa saja. Kadang aku berandai, kutebak engkau pasti orang paling sumringah tiap kepulanganku di rumah. Kuyakin engkau orang terantusias membuka aneka plasti...

Maaf,

Mak, Pak, maaf ya. Aku jarang sekali menulis tentang kalian. Bukannya tidak mau, aku hanya bingung akan jadi seperti apa ungkapan terimakasihku pada kalian. Lihat aku sekarang Mak, Pak.. Sekarang aku jauh lebih cerewet bukan? Aku ingat sekali bagaimana rasanya malas bicara, entah karena takut disalip atau memang karena sedang tidak ingin boros nafas. Pernah kudengar cerita, waktu usiaku masih ngompol sana sini. Bibirku memang sedatar itu. Aku tidak sama seperti bayi-bayi lucu sepantaranku. Di sekolah, aku tidak pintar. Tapi juga tidak bego-bego amat. Aku hanya terkenal karena bagian belakang bukuku yang penuh dengan gambar imajinasi. Mak, Pak, tahu tidak? Aku pernah dituduh Ibu guru menjiplak gambar, padahal demi Allah aku menggambarnya sendiri. Aku sedih, tapi juga tidak menangis. Pernah sekali ibu guru memberi pertanyaan tak terduga, aku yang sepanjang pelajaran sibuk menggambar sana sini dengan pedenya mengacungkan jari. Aku hanya tidak tertarik berebut, karena tak ada yang...

Petunjuk Membaca (wajib)

1. Tulisan ini untuk lu doang, jadi rahasia! Hehe 2. Urutannya amburadul, karena sering kubaca ulang lalu kepencet simpan. Makanya tulisan lama malah ke atas sebagian. 3. Terserah mau baca darimana, yang penting Tikaku baca dari satu yee. Gehehe. 3 1/2. Tapi disaranin baca dari bawah sih (selain tikaku) 4. Dilarang berubah setelah membaca. 5. Kalau berubah, kupanggil doraemon hapus ingatanmu. Ada juga yg nda sengaja terpublikasi, maklum.. orang baru di blog itu hari kodong. Kukira kusimpan to' ternyata terpublikasi. Mauka hapuski, takukka terhapus selama-lamanya. Hehehe. Jadi ikhlaskanmi yg itua. Beberapa konten bukan untuk kau sebenarnya, ada untuk icha, arman, ride, sama akram tobi. Juga ada untuk orang abstrak. Kentaraji itu, kalo untuk kau, berarti ada tikaku nya. Kalo nda ada, nassami bukan untuk kau. Terserah mau baca ato nda. Tapi kalo mau, tabe di satu eskrim/choki-choki per konten. Susu ultrata kalo ada tabe' Penulis/Papote-pote ~ si lucu, imma ~

Prolog... (baca diawal).

Selamat, anda baru saja memasuki zona merah bertengkorak. Pake aku aku ka' disini. Krna kalo saya terlalu asing, kalo gue terlalu sok. Jadi aku mo gang. Hahaha. Setelah hampir 5 tahun baruka kenalan sama kau. Karna biasa kauji terus cerita to.. jadi yaa kuceritakanmko juga, tapi lewat huruf asoooyyy. Sebenarnya dumba'ka. Apa gerangan responnu, tapi nda pedulija deh. Yang penting jangko berubah. Ituji. Hehepp wakwaoo. Hmm. Mari kita mulakan. Kita sudah kenal 5 tahun. Bukan waktu yang singkat, tapi juga belum terlalu lama. Kalau manusia, pertemanan kita sudah mulai masuk TK. Aku suka menulis, kau pasti tau itu. Meski maaf, aku selalu menyembunyikannya dari siapapun. Aku terlalu malu jika keluh kesahku dibaca oleh selainku. Kartika Pratiwi H. Nama di urutan awal. Tidak kuhiraukan. Selama aku punya Shahrisah S. Aku diam-diam saja. Kau duduk di belakang kursiku. Di awal kuliah aku benar-benar tidak tertarik untuk mengenal penghuni kelas kita. Aku masih mengeluhkan ket...

To be continued (baca di akhir).

Ini akan jadi tulisan terakhir untuk season ini. Belum kutau, apa aku akan melanjutkan atau menyudahinya saja. Tadinya aku berpikir memberimu di hari ulang tahun atau apakah.. Lalu aku kembali berpikir, ini jadi hadiah wisudamu saja. Karena aku tak memberimu apa-apa di hari itu. Hehe Terlebih kutau bahwa akhir-akhir ini kita sudah jarang bertemu, dan aku jadi kurang bahan bercerita. Aku tak mau menodai tulisan untukmu lebih banyak lagi, hahaha. Kau pasti menyadarinya juga bukan? Di akhir-akhir konten tikaku, malah banyak menceritakan diriku sendiri. Karenanya, lebih baik kusudahi saja. Siapa tahu, nanti kita kerja di tempat yang sama. Jadi aku bisa menuliskan hal-hal baru tentangmu. Ini mungkin terlihat sederhana, hanya tulisan yang berentet panjang. Entah apa kau betah membacanya atau tidak. Aku tidak tau. Kutulis ini sebagai terima kasihku telah menjadi temanku yang sudah tidak bisa lagi kugambarkan (alay). Tapi Memang. Juga bentuk maafku yang selama ini menutup rapat ban...

Untuk tobi, yang hobbynya cengenges sana sini

Berusia lebih muda hanya setahun lebih beberapa hari dariku, tapi jika dilihat lagi, ia tak begitu jauh beda dari adik yang kuperkenalkan lebih dulu. Si keriwil bolla' Akram. Perangainya lugu. Kesan pertamaku padanya agak lucu, kasian, sangat kasian. Haha. Biar kudeskripsikan sedikit. Tingginya 150-an. Kira-kira 158 lah. Yang jelas aku lebih tinggi darinya. Kulitnya sedikit lebih gelap dari Akram yang memang cerah. Tobi punya tahi lalat di sekitar hidung. Kalau kata dia, "Saya tidak gantengka kak, tapi maniska" Betapa pede adik satu ini. Hahahaha. Aku mah iya iya saja. Apa sudah kuceritakan? Kala aku marah dan mendiami mereka? Ini terjadi dua kali. Pertama kalinya, mereka berdua bungkam. Tidak berani menyapa, mungkin karena mukaku sudah mendingin dan kaku. Lalu berusaha kumulai percakapan, Tobi cukup santai menanggapi. Meski diiringi keluhan karena katanya tidak "kujampangi" kemarin. Lama kelamaan, dia mulai berani. Merecoki, juga meminta sana sini. Sa...

Pisah😊

Riak angin menerpa lembut, terasa sejuk. Matahari sedang bermalasan, awan lebih pekat dari biasanya. Masih teringat benar peristiwa seminggu lalu. Saat gema azan maghrib sudah pada penghujungnya, malam mulai menyapa. Tetiba debaman keras menghentak, menyisakan kehancuran dipenjuru ruang. Untuk suatu alasan, kepanikan tak mendera. Ada tenang yang memeluk lembut. Berkata bahwa semua akan baik-baik saja. Tak pernah kuduga bahwa peristiwa di ujung hari itu akan jadi biang. Kisah pertemanan yang belum berapa lama rasanya kini telah di ambang kelumpuhan. Kadang-kadang hati bergejolak Apa iya Tuhan akan mengambilnya (lagi)? Bukan kepulangan, ini lebih pada keterpisahan. Lalu aku kembali pendiam, larut dalam luka yang sedari lama kubawa. Mungkin inilah yang terbaik. Lelahku memang sudah di ujung tanduk. Tapi, lagi-lagi kehilangan adalah cara paling menyiksa yang diujikan Tuhan padaku. Aku tak pernah siap, tidak pernah. Egoisku harus kubunuh. Sampai berapa lama lagi aku "...