Erlangga, karenamu kami kembali bertemu

Rencana : 
Berangkat pagi-pagi jam 7 sebelum akad, setelah akad langsung pamit pulang.


Realita : 
Jam 7 masih nunggu giliran mandi, sejam kemudian masih "topengin" muka. Menjelang jam 9, sibuk grasak grusuk atur pakaian. Karena sudah tidak memungkinkan sampai lokasi di waktu yang diharapkan, akhirnya disempatkan foto duluan depan teras. Mantap.

Nah, sesampai di lokasi persis dititik maps, nampaklah mobil yang berjejeran serta tenda khas pelaminan. Menunggu salah seorang berganti pakaian, para perempuan sibuk membetulkan "topengnya" yang sudah longsor tidak karuan disapu angin Bone, Soppeng, dan Wajo.

Menengok jam yang sudah menunjukkan pukul 10:47. Lima orang dengan sedikit rasa malu tapi penuh antusias berjalan menyusuri lorong manusia yang rata-rata berpakaian senada. Membiarkan si dua orang laki-laki berjalan didepan dan paling belakang. Semakin melangkah, makin terdengar bisikan "Temannya Illa, temannya Illa". Dalam hati, wah tar dulu, tar dulu, bukannya Illa itu nama istrinya?. Oke fiks, kita salah masuk rumah maemunah.

Balik kanan, grak!
Tadaaa, semua mata tertuju padamuu

Singkat cerita, berjalanlah kami beberapa meter ke kanan. Barulah rumah yang dituju nampak. Sisa malu ditinggalkan karena sudah lapar wkwk.
Keluarga menyambut dengan hangat. Kenyang daging dan acar, kami disuguhi aneka kue dan teh. Zuzur, kue kejunya enak mau nambah tapi baju sudah hampir meledaq huaa.

Mendapat kabar dari informan terpercaya, kami diarahkan kembali ke tenda sebelumnya. Ternyata hei ternyata, disanalah memang resepsinya. Karena bertetangga, acara resepsi disatukan. Mantap, kita jadi bahan tontonan karena bolak balik tidak jelas. Tidak apa-apa lah, tujuan kan memang untuk bertemu dan memberi selamat. Urusan malu mah belakangan, sudah khattam!! Ahaha.

Senang sekali bisa sejenak tertawa bersama. Disuasana yang berbeda, namun masih dengan orang yang sama. Berfoto dan saling dempet-dempetan supaya badan mekarnya tersamarkan. Apalah daya, lengan dan kaki yang kemarin penuh otot sudah punah. Diganti lemak yang tumpah-tumpah.

Berbekal pesan "Jangan pulang, tunggu di rumah", lima orang yang dijamin sudah dapat fukulan niqmat di pengkaderan silam itu menurut saja. Berbaris menuju lantai tiga, eh maksudnya rumah sang pemberi pesan.

***

GUBRAKKKK

Dear WO, mohon maaf sekali, salah satu dari kami telah mematahkan kursi berlapis kain jadi dua. Kaki belakangnya bahkan remuk tak terselamatkan. Beberapa keluarga nampak panik, empat temannya sibuk cekikikan dengan sedikit tersengal menahan ledakan tawa.

Berjam-jam lewat begitu saja, sudah mengantuk tidak karuan. Lima orang berinisiatif cari minuman di alfamart terdekat. Lelah telusuri jalan dan belum juga ketemu, akhirnya diputuskan memutar lalu singgah di warung sederhana lengkap dengan dipan-dipannya.

Saat sedang asik bertukar cerita dan gelak tawa, seseorang yang daritadi membuat tunggu mengerem scoopy nya di bahu jalan. Setelah beberapa saat ikut lepas rindu dan dahaga, semuanya bergegas.

Wah, senang sekali. Akhirnya si pemilik acara sudah ditempat foto bersama keluarga. 

Lima orang sudah jadi enam, empat diantaranya berpakaian senada yang kebetulan sekali memang teman seangkatan. Tanpa sia-siakan kesempatan, keempat saling berjejal memasang ragam gaya. Tidak untuk ditiru, namun kami terpaksa serobot antrian karena waktu makin senja.

Puas berfoto dengan bumbu canda tawa, akhirnya diputuskan untuk berpamit pulang. Ada lega luar biasa dibenak mengingat aspal ke lokasi yang mantap bukan main. Berkubang air dan sedikit lumpur bekas hujan semalaman. Apalagi empat orang yang memang jauh-jauh datang dari kota. Bahagianyaaa

Baru beberapa meter ban motor kami melaju, rupanya dua orang tamu yang juga rekan kami menyapa. Ah mampus, tak jadi lagi kita pulang. Sekian menit menunggu, berkumpullah semua di tepi jalan. Memutuskan untuk nikmati es kelapa di taman terdekat.

Lama kami bertukar tawa dan cerita. Tentang bagaimana akrabnya kami dulu, lalu dengan mudah dipisah karena urusan politik sampah hahaha.

Pisang goreng dengan sambel dan kelapa yang datang belakangan jadi camilan pertama sejak 2016 lalu. Memang, beberapa kali bertemu namun tak sehangat hari ini. Mungkin karena suasana bahagia yang ikut terasa ya. Ahahaha.

Melarut dalan cerita, terik sore, juga angin segar, bikin kami jadi agak lupa waktu hehe. Apalagi sungai cukup besar yang mengalir membawa eceng gondok tepat dibelakang. Belum nelayan yang sibuk kesana-kemari menjemput rejeki. Ah, indahnya.

Walau akhirnya kembali berpisah, perasaan senang ini tidak mudah dilupa, sebagaimana kenangan di 2015-2016 lalu. Rindu sekaaaaliii 🥰

***
Selamat untuk kak Angga, meski tak bersama orang yang dimau, namun salah tingkahmu cukup menjelaskan bahwa ia orang yang tepat. Barakallah, moga sampai tua dan surga 🥰

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mu

Baru

stronger